Deva Yohana
(www.pexels.com)

Sejujurnya, aku memerlukan kondisi emosi yang stabil saat menuliskan kisah ini. Cerita yang ditampilkan sangat menguras emosiku dan sudah membuatku merasa tidak nyaman saat pertama kali akan menuliskannya. Ah, tapi, semoga berguna untuk menyeimbangkan mentalku. Bukankah unek-unek lebih baik dikeluarkan?

Sebelum masuk ke ceritaku menempuh pendidikan tinggi yang prosesnya lebih seperti ujian mental itu, izinkan aku sedikit berceloteh tentang latar belakang kehidupanku terlebih dahulu.

Aku dibesarkan di tengah keluarga yang kalau dalam ranah ekonomi masih dalam tingkat kelas menengah, biasa-biasa saja. Kami berkecukupan. Bapakku bekerja sebagai pedagang ketupat sayur di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sejak 30-an tahun yang lalu ia mulai merantau di kota yang mendapat julukan metropolitan itu.

Ibuku saat ini punya kesibukan membantu Bapak. Kondisi tersebut membuatnya tidak lagi bisa beraktifitas seperti sebelumnya, yakni ikut perkumpulan bersama ibu-ibu di hari Kamis, Jum’at, dan Minggu. Ibu pun harus rela meninggalkan kamar di rumah kami yang nyaman dan tinggal di kontrakan Jakarta tanpa alas tidur karena tak bisa nyenyak memejamkan mata di atas kasur lantai. Rumah kami di kampung pun kosong. Tidak berpenghuni, padahal memiliki ukuran yang besar untuk ukuran rumah di desa.

Ibuku juga pernah berjualan es dan makanan kecil. Es yang dibuatnya dititipkan pada pedagang-pedagang di sekolah. Tapi ini dulu, ketika aku masih SD. Pada masaku SMP-SMA, ia menjadi ibu rumah tangga. Namun, beberapa tahun terakhir, ia harus ikut bapak ke Jakarta. Alasannya, lelaki itu tidak kuat lagi melakukan semua tugasnya sendirian. Membuat urung ketupat, meracik bumbu, menggoreng kerupuk, memasak, dan berbelanja di pasar adalah rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan ibu untuk membantu bapak.

Keadaan keluargaku semasa aku SD hingga SMA masih terbilang stabil, bahkan ada masanya keluarga kami serasa di atas roda. Bapakku hampir setiap lebaran membelikan baju untuk tetangga kami yang merupakan anak yatim-piatu. Rumahku pun sering ramai karena digunakan untuk berbagai acara.

Bapakku pun adalah orang yang sangat menomorsatukan pendidikan anaknya. Ia sering membelikanku hadiah saat aku mendapatkan peringkat atau ranking di kelas. Bapak tidak hanya memberikan hadiah untukku, tetapi juga untuk kakak dan adikku, meskipun mereka tidak mendapatkan ranking. Saat aku tanya kenapa mereka juga diberi hadiah? Jawab Bapak, “Bapak kan pengen jadi orang tua yang adil. Siapa tahu dapat memberi motivasi kepada mereka buat rajin belajar.” Jawaban yang sangat mengharukan.

Orang tuaku pun tidak pernah sulit saat aku mintai uang untuk membeli keperluan sekolah. Mereka selalu mengusahakan “ada”. Hanya permintaan ikut kursus bahasa Inggris yang tak pernah dikabulkan ibuku haha. Itu saat aku kelas 1 SMA dulu.

(Nulis sampai sini perasaanku sudah tidak nyaman lagi. Kepalaku pun malah sakit. Aku cukupkan atau lanjut? Hmm.. better I take a rest for a while and will continue after a break.)