Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Perjalanan Sebuah Cita-cita

 

Deva Yohana
(www.pexels.com)

Sejak kecil, kita tidak pernah absen dari pertanyaan, "kalau besar mau jadi apa?" Atau, "apa cita-citamu?"

Bedanya, waktu itu kita akan menjawabnya dengan begitu bersemangat. Misalnya, "aku mau jadi guru."

Sekarang, saat menjadi dewasa, jawaban kita akan menyesuaikan dengan realitas yang ada.

Begitu juga denganku. Berikut ini adalah perjalananku menentukan cita-cita, dari SD hingga kuliah. Apa saja cita-citaku?

Guru

Tanya saja pada teman-teman masa kecilku. Ketika kecil, kami sering mengadakan 'sekolah-sekolahan'. Ada yang berperan sebagai murid. Ada juga yang berperan sebagai guru. Peran yang sering aku jalani adalah guru.

Rasanya aku merasa senang membantu teman-temanku belajar. Aku juga senang belajar bersama mereka. Ketika ditanya apa cita-citaku, jawabanku selalu ingin menjadi guru.

Itu adalah cita-citaku pas SD. Saat ini aku sedang berusaha mewujudkan cita-cita ini dengan menjadi 'rekan belajar' di program yang aku inisiasikan untuk belajar bahasa asing.

Aku ingin menjadikan profesi ini sebagai sarana menyediakan pendidikan gratis bagi mereka yang membutuhkan. Kenapa aku ingin menjadikannya 'gratisan'?

Jawabannya sederhana, aku merasakan sendiri betapa sulitnya belajar di tengah keterbatasan tidak mampu ikut kursus, gagal terus dapat beasiswa, sulit beli buku, dan lain-lain.

Aku mengalami pukulan demi pukulan yang berat justru di sesuatu yang aku senangi, yaitu pendidikan.

Intinya, sebisa mungkin aku ingin membantu orang yang sedang menghadapi kesulitan yang sama. Mungkin juga kondisinya lebih sulit dariku.

Jurnalis

Ini cita-citaku sewaktu SMP. Aku ingat, pada sesi pelajaran Bahasa Indonesia kelas 8, salah satu materi yang diajarkan adalah berita. Pak Guru menyuruh kami untuk latihan menulis berita dan menjadi pembawa berita ala-ala reporter di tv.

Waktu itu, kami harus praktik maju ke depan  satu-satu. Aku yang pendiam dan pemalu merasa terbata-bata untuk membacakan berita di depan teman-temanku. Meskipun begitu, aku sangat senang dapat mengalahkan ketakutanku.

Waktu SMP pula, sebagai pengurus OSIS (gadungan), aku ikut membuat seragam. Yang membuat istimewa adalah seragam kami dibuat menyerupai wartawan Transmedia. Ini semakin membuatku terlihat seperti jurnalis profesional. Aku sangat senang mengenakannya.

Aku mulai berandai-andai semoga suatu hari nanti aku bisa mengenakan seragam salah satu perusahaan media.

Btw, menjadi jurnalis merupakan 'salah satu' profesi yang aku usahakan saat ini. Aku berlatih menulis, mengikuti pelatihan GenSindo, masuk di komunitas Jurnalisme Berkebangsaan, dan berusaha terlibat aktif pada kegiatan yang mendekatkanku pada profesi ini. Sayangnya, aku memilih keluar dari LPM Institute wkwk.

Oh iya, mengapa 'salah satu'? Karena semasa kuliah aku memiliki idealisme lain yang ingin kuperjuangkan. Ini berdasarkan pengalamanku mengikuti berbagai macam komunitas/organisasi/yayasan. Ceritanya nanti, ya, biar urut xixi.

Diplomat

Ini adalah cita-cita paling 'ngeri'. Masa SMA mengenalkanku pada keindahan berbagai bahasa yang membuatku sangat suka mempelajarinya. Inilah yang membuatku bercita-cita menjadi diplomat.

Guru bahasa Prancisku selalu mendorongku untuk masuk jurusan sastra (Prancis) supaya bisa mendaftar di kedutaan. Tentu, bekerja di sana bisa menjadi pintu menuju cita-cita menjadi diplomat.

Waktu itu memang aku sangat ingin masuk di jurusan Sastra Prancis UNNES, tapi karena huru-hara hidup aku mengubur mimpi berkuliah di sana. Well, saat ini aku kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Arab. So, masih ada nuansa sastranya lah ya.

Menginjak bangku kuliah, sepertinya kegiatanku tidak mengarah ke menggapai cita-cita ini. Aktivitasku lebih condong ke dunia kepenulisan dan filantropi.

Meskipun begitu, aku selalu teringat ucapan mama ketika menonton siaran Pak Jokowi mengumumkan nama-nama menterinya pada 2019 lalu. Ketika giliran Bu Retno dipanggil, mama berceletuk, "Suatu hari nanti kamu yang akan jadi menteri luar negeri."

Aku hanya bisa mengaminkan. Apakah badai kehidupan akan tetap membawaku bermuara di bidang ini? Entahlah. Ini bagian dari rahasia ilahi. Toh, aku juga tidak begitu berharap.

Dunia Filantropi

Nah, ini adalah dunia yang aku kenal sejak menempuh pendidikan tinggi. Bahwa arahku bekerja ada di bidang ini juga, selain jurnalis dan segala macam jenis penulis.

Sejak mengenal dunia komunitas, yayasan, NGO, kemudian banyak mengikuti kegiatan yang berhubungan dengannya, aku menjadi tertarik untuk terjun di dunia ini. Dunia yang kata orang-orang tidak membawamu pada kekayaan karena jauh dari mendapatkan banyak materi, kecuali kamu punya pekerjaan lainnya.

Kenapa aku bisa segandrung itu? Berikut alasanku:

1. Aku selalu merasa senang saat membantu orang lain. Rasanya jiwaku bahagia sekali.

2. Aku sangat resah menyaksikan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan seharusnya. Misalnya begini. Setiap anak 'seharusnya' bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Apakah itu sudah terwujud? BELUM. Selanjutnya, 'seharusnya' dunia ini menjadi tempat tinggal yang nyaman, tetapi kenyataannya setiap hari kerusakan alam terus terjadi. Begitulah. Masih banyak keresahan yang aku rasakan.

3. Panggilan hati. Ada gelora dalam hati yang mendorongku berusaha  mewujudkan keidealan tadi (poin 2).

4. Kesenangan berinteraksi dengan manusia. Terjun di filantropi akan menemukanku dengan beragam macam karakter dan latar belakang orang yang berbeda-beda. Pasti menyenangkan sekali. Aku perlu melatih keterampilan komunikasiku supaya lebih baik.

5. Jatuh cinta pada kemanusiaan. Aku hanya susah menjelaskannya.

Intinya, salah satu bidikan setelah lulus nanti adalah bekerja di NGO, baik nasional atau internasional, terutama isu sosial yang berhubungan dengan pendidikan.

Begitulah uraian panjang tentang perjalanan menentukan cita-cita. Aku sendiri masih belum tahu, apakah kehidupan akan mendaratkanku pada salah satu profesi di atas atau aku akan terjun di bidang lainnya.

Yang penting niatkan untuk menyemai kebaikan. Uhuy!

Posting Komentar

0 Komentar