![]() |
| (www.pexels.com) |
Sejak kecil, kita
tidak pernah absen dari pertanyaan, "kalau besar mau jadi apa?" Atau,
"apa cita-citamu?"
Bedanya, waktu
itu kita akan menjawabnya dengan begitu bersemangat. Misalnya, "aku mau
jadi guru."
Sekarang, saat
menjadi dewasa, jawaban kita akan menyesuaikan dengan realitas yang ada.
Begitu juga
denganku. Berikut ini adalah perjalananku menentukan cita-cita, dari SD hingga
kuliah. Apa saja cita-citaku?
Guru
Tanya saja pada
teman-teman masa kecilku. Ketika kecil, kami sering mengadakan
'sekolah-sekolahan'. Ada yang
berperan sebagai murid. Ada juga yang berperan sebagai guru. Peran yang sering
aku jalani adalah guru.
Rasanya aku
merasa senang membantu teman-temanku belajar. Aku juga senang belajar bersama
mereka. Ketika ditanya apa cita-citaku, jawabanku selalu ingin menjadi guru.
Itu adalah
cita-citaku pas SD. Saat ini aku sedang berusaha mewujudkan cita-cita ini
dengan menjadi 'rekan belajar' di program yang aku inisiasikan untuk belajar
bahasa asing.
Aku ingin
menjadikan profesi ini sebagai sarana menyediakan pendidikan gratis bagi mereka
yang membutuhkan. Kenapa aku ingin menjadikannya 'gratisan'?
Jawabannya
sederhana, aku merasakan sendiri betapa sulitnya belajar di tengah keterbatasan
tidak mampu ikut kursus, gagal terus dapat beasiswa, sulit beli buku, dan
lain-lain.
Aku mengalami
pukulan demi pukulan yang berat justru di sesuatu yang aku senangi, yaitu
pendidikan.
Intinya, sebisa
mungkin aku ingin membantu orang yang sedang menghadapi kesulitan yang sama.
Mungkin juga kondisinya lebih sulit dariku.
Jurnalis
Ini cita-citaku
sewaktu SMP. Aku ingat, pada sesi pelajaran Bahasa Indonesia kelas 8, salah
satu materi yang diajarkan adalah berita. Pak Guru menyuruh kami untuk latihan
menulis berita dan menjadi pembawa berita ala-ala reporter di tv.
Waktu itu, kami harus praktik maju ke depan satu-satu. Aku yang pendiam dan pemalu merasa terbata-bata untuk membacakan berita di
depan teman-temanku. Meskipun begitu, aku sangat senang dapat mengalahkan
ketakutanku.
Waktu SMP pula,
sebagai pengurus OSIS (gadungan), aku ikut membuat seragam. Yang membuat
istimewa adalah seragam kami dibuat menyerupai wartawan Transmedia. Ini semakin membuatku terlihat seperti
jurnalis profesional. Aku sangat senang mengenakannya.
Aku mulai
berandai-andai semoga suatu hari nanti aku bisa mengenakan seragam salah satu
perusahaan media.
Btw, menjadi
jurnalis merupakan 'salah satu' profesi yang aku usahakan saat ini. Aku
berlatih menulis, mengikuti pelatihan GenSindo, masuk di komunitas Jurnalisme
Berkebangsaan, dan berusaha terlibat aktif pada kegiatan yang mendekatkanku
pada profesi ini. Sayangnya, aku memilih keluar dari LPM Institute wkwk.
Oh iya, mengapa
'salah satu'? Karena semasa kuliah aku memiliki idealisme lain yang ingin
kuperjuangkan. Ini berdasarkan pengalamanku mengikuti berbagai macam
komunitas/organisasi/yayasan. Ceritanya nanti, ya, biar urut xixi.
Diplomat
Ini adalah
cita-cita paling 'ngeri'. Masa SMA mengenalkanku pada keindahan berbagai bahasa
yang membuatku sangat suka mempelajarinya. Inilah yang membuatku bercita-cita
menjadi diplomat.
Guru bahasa
Prancisku selalu mendorongku untuk masuk jurusan sastra (Prancis) supaya bisa
mendaftar di kedutaan. Tentu, bekerja di sana bisa menjadi pintu menuju
cita-cita menjadi diplomat.
Waktu itu memang
aku sangat ingin masuk di jurusan Sastra Prancis UNNES, tapi karena huru-hara
hidup aku mengubur mimpi berkuliah di sana. Well, saat ini aku kuliah di
jurusan Bahasa dan Sastra Arab. So, masih ada nuansa sastranya lah ya.
Menginjak bangku
kuliah, sepertinya kegiatanku tidak mengarah ke menggapai cita-cita ini.
Aktivitasku lebih condong ke dunia kepenulisan dan filantropi.
Meskipun begitu,
aku selalu teringat ucapan mama ketika menonton siaran Pak Jokowi mengumumkan
nama-nama menterinya pada 2019 lalu. Ketika giliran Bu Retno dipanggil, mama
berceletuk, "Suatu hari nanti kamu yang akan jadi menteri luar negeri."
Aku hanya bisa
mengaminkan. Apakah badai kehidupan akan tetap membawaku bermuara di bidang
ini? Entahlah. Ini bagian dari rahasia ilahi. Toh, aku juga tidak begitu
berharap.
Dunia Filantropi
Nah, ini adalah
dunia yang aku kenal sejak menempuh pendidikan tinggi. Bahwa arahku bekerja ada
di bidang ini juga, selain jurnalis dan segala macam jenis penulis.
Sejak mengenal
dunia komunitas, yayasan, NGO, kemudian banyak mengikuti kegiatan yang
berhubungan dengannya, aku menjadi tertarik untuk terjun di dunia ini. Dunia
yang kata orang-orang tidak membawamu pada kekayaan karena jauh dari
mendapatkan banyak materi, kecuali kamu punya pekerjaan lainnya.
Kenapa aku bisa
segandrung itu? Berikut alasanku:
1. Aku selalu
merasa senang saat membantu orang lain. Rasanya jiwaku bahagia sekali.
2. Aku sangat
resah menyaksikan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan seharusnya. Misalnya
begini. Setiap anak 'seharusnya' bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Apakah
itu sudah terwujud? BELUM. Selanjutnya, 'seharusnya' dunia ini menjadi tempat
tinggal yang nyaman, tetapi kenyataannya setiap hari kerusakan alam terus
terjadi. Begitulah. Masih banyak keresahan yang aku rasakan.
3. Panggilan
hati. Ada gelora dalam hati yang mendorongku berusaha mewujudkan keidealan tadi (poin 2).
4. Kesenangan
berinteraksi dengan manusia. Terjun di filantropi akan menemukanku dengan
beragam macam karakter dan latar belakang orang yang berbeda-beda. Pasti
menyenangkan sekali. Aku perlu melatih keterampilan komunikasiku supaya lebih
baik.
5. Jatuh cinta
pada kemanusiaan. Aku hanya susah menjelaskannya.
Intinya, salah
satu bidikan setelah lulus nanti adalah bekerja di NGO, baik nasional atau
internasional, terutama isu sosial yang berhubungan dengan pendidikan.
Begitulah uraian
panjang tentang perjalanan menentukan cita-cita. Aku sendiri masih belum tahu,
apakah kehidupan akan mendaratkanku pada salah satu profesi di atas atau aku
akan terjun di bidang lainnya.
Yang penting niatkan untuk menyemai kebaikan. Uhuy!
.jpg)
0 Komentar