Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Kamar Kost A4


(www.pexels.com)

              Perjalananku berhenti di seberang Plaza Kertamukti persisnya di depan kost putri bernama Pondok Cemerlang. Ini dia tempat yang aku cari. Ketika baru menaiki lima anak tangga menuju lantai dua, ponselku bergetar tanda ada pesan yang masuk. “Jangan lupa kamarku no. A4 ada di lantai 2. Pintunya sengaja nggak aku kunci, nanti masuk aja ya. Aku lagi di minimarket dulu sebentar.” Setelah aku menjawab “Oke” pada pesan tersebut, aku melanjutkan langkahku. Dia pikir aku lupa apa!

                Ketika sudah  berada di ujung tangga atas, kubuka pintu yang ada disana. Di sebelah kanan atau kiri? Dimana kamarnya? Ada dua blok kamar disini. Aku mencoba berjalan ke sebelah kanan. Setelah aku lihat-lihat ternyata disitu blok B. Ada kamar B1, B2, B3, dan seterusnya. Baiklah, berarti kamarnya ada di sebelah kiri.

                Aku berganti arah ke blok  sebelah kiri. Terlihat barisan kamar dari kedua sisi, sisi kanan dan sisi kiri. Aku menyusurinya sambil bernyanyi. Selang beberapa langkah kaki di sebelah kiri terdapat kamar mandi. Satu, dua, tiga, dan empat kamar mandi berjejer rapi. Di depan kamar mandi tersebut menjuntai banyak pakaian warna-warni yang sedang dijemur di bawah cahaya matahari. Uppss.. aku sampai lupa mencari nomor kamar yang menjadi tujuanku. Aku malah putar balik memulai perjalanan dari depan pintu lagi.

                Pandanganku menyusuri sisi sebelah kanan. Terlihat nomor kamar berada di pintu bagian atas. A1, A2, A3, nah.. ini dia kamar A4, kamar yang aku cari. Ternyata letak kamar tersebut persis berhadapan dengan kamar mandi. Di depan kamar ada rak sepatu kecil berwarna ungu yang terdiri dari tiga baris. Tentu saja, di situ berjejeran sepatu sang pemilik kamar.

                Krek, krek. Bunyi pintu terbuka setelah aku membukanya. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam dan kubiarkan pintunya terbuka. Kamar ini tidak terlalu besar. Ukuran yang sedang untuk sebuah kamar dan hanya ada satu ruangan di sini. Cat tembok yang berwarna kuning menambah kesan terang ruangan.

                Kulihat di lurusan pintu tepatnya di depan tembok sebelah kiri ada galon tanpa dispenser dengan pipa galon di atasnya. Setelah aku melangkahkan kaki dua langkah, ternyata di sebelah galon ada peralatan makan, sendok, garpu, piring, mangkok, dan lain-lain tersusun rapi di rak kecil berwarna abu-abu.

                Kau tahu apa yang ada di sebelah rak yang berisi peralatan makan itu? Kalau kau jawab koleksi sepatu atau tas, tentu jawabannya salah. Amboi, itu bukunya banyak sekali. Aku kira cerita dia seorang kutu buku itu hanya fiktif belaka, ternyata dengan melihat banyaknya buku yang dia punya sudah bisa dipastikan dia memang kutu buku, bukan kutu buku biasa tapi kutu buku sejati malah. Aku mendekatkan diri kesana untuk menebus rasa penasaranku mengenai buku apa saja yang ada di situ.  Di rak bagian atas aku melihat berjejer rapi buku-buku dengan berbagai tema, ada keagamaan, ilmu sosial, pengembangan diri & motivasi, sejarah, dan bahasa. Mataku terbelalak ketika menyaksikan barisan kamus berbagai bahasa dengan berbagai ukuran dan ketebalan halaman terletak di rak paling bawah. Ada kamus bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Spanyol, bahasa Korea, bahasa Mandarin, bahkan bahasa Belanda pun ada! Alamak, selain kutu buku dia juga suka belajar bahasa asing. Aku menduga salah satu alasan belajar bahasa asing baginya adalah ingin mendapatkan pasangan bule dan hijrah ke sana. Awas saja kalau aku tidak diundang.

                Setelah puas melihat-lihat buku yang kalau ditotal mungkin berjumlah di atas 100, kumengarahkan pandangan ke sebelah kanan kamar. Disitu ada kasur spring bed dengan sprei berwarna kuning yang senada dengan warna tembok dan bermotif bunga. Di depan kasur ada lemari kayu berbentuk balok dengan lebar kurang lebih 1,5 meter yang menghadap ke arah barat. Tahukah kau apa yang terletak di atas lemari itu? Lagi-lagi kalau kau jawab dengan koleksi sepatu atau tas, jawabannya sangat salah. Karena yang berada di sana adalah BUKU. Iya, barisan buku lagi. Dari judul-judulnya, buku tersebut banyak yang membahas tentang Ilmu Komunikasi. Oh iya, aku ingat! Teman kost temanku ini kuliah di jurusan KPI, pantas saja!

                Lima menit sudah aku menunggu temanku, tapi belum ada tanda-tanda dia akan datang. Tidak ada pesan yang masuk dari dia. Entahlah, aku bosan. Aku mau baca buku saja. Buku sejarah sepertinya menarik (mengambil buku sejarah). Kamar ini lebih kelihatan seperti perpustakaan pribadi dibandingkan dengan kamar pribadi atau kamar kost pada umumnya. Aku hanyut dalam bacaanku.

                “Doooorrrrr!!!”. Astaghfirullah, aku kaget donk. “Serius banget bacanya, Neng. Maaf ya kamu sudah menungguku lama. Tadi, aku mampir dulu ke ATM dan warung makan. Yuuk makan bareng,” temanku menjelaskan panjang lebar. Kalau ada makanan begini kan aku jadi tambah semangat hehe.
               
               


Posting Komentar

0 Komentar