![]() |
| (www.pexels.com) |
Ketika sudah berada di ujung tangga atas, kubuka pintu
yang ada disana. Di sebelah kanan atau kiri? Dimana kamarnya? Ada dua blok
kamar disini. Aku mencoba berjalan ke sebelah kanan. Setelah aku lihat-lihat
ternyata disitu blok B. Ada kamar B1, B2, B3, dan seterusnya. Baiklah, berarti
kamarnya ada di sebelah kiri.
Aku berganti arah ke
blok sebelah kiri. Terlihat barisan
kamar dari kedua sisi, sisi kanan dan sisi kiri. Aku menyusurinya sambil
bernyanyi. Selang beberapa langkah kaki di sebelah kiri terdapat kamar mandi.
Satu, dua, tiga, dan empat kamar mandi berjejer rapi. Di depan kamar mandi
tersebut menjuntai banyak pakaian warna-warni yang sedang dijemur di bawah
cahaya matahari. Uppss.. aku sampai lupa mencari nomor kamar yang menjadi
tujuanku. Aku malah putar balik memulai perjalanan dari depan pintu lagi.
Pandanganku menyusuri
sisi sebelah kanan. Terlihat nomor kamar berada di pintu bagian atas. A1, A2,
A3, nah.. ini dia kamar A4, kamar yang aku cari. Ternyata letak kamar tersebut
persis berhadapan dengan kamar mandi. Di depan kamar ada rak sepatu kecil
berwarna ungu yang terdiri dari tiga baris. Tentu saja, di situ berjejeran
sepatu sang pemilik kamar.
Krek, krek. Bunyi
pintu terbuka setelah aku membukanya. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam dan
kubiarkan pintunya terbuka. Kamar ini tidak terlalu besar. Ukuran yang sedang
untuk sebuah kamar dan hanya ada satu ruangan di sini. Cat tembok yang berwarna
kuning menambah kesan terang ruangan.
Kulihat di lurusan
pintu tepatnya di depan tembok sebelah kiri ada galon tanpa dispenser dengan
pipa galon di atasnya. Setelah aku melangkahkan kaki dua langkah, ternyata di
sebelah galon ada peralatan makan, sendok, garpu, piring, mangkok, dan
lain-lain tersusun rapi di rak kecil berwarna abu-abu.
Kau tahu apa yang ada
di sebelah rak yang berisi peralatan makan itu? Kalau kau jawab koleksi sepatu
atau tas, tentu jawabannya salah. Amboi, itu bukunya banyak sekali. Aku kira
cerita dia seorang kutu buku itu hanya fiktif belaka, ternyata dengan melihat
banyaknya buku yang dia punya sudah bisa dipastikan dia memang kutu buku, bukan
kutu buku biasa tapi kutu buku sejati malah. Aku mendekatkan diri kesana untuk
menebus rasa penasaranku mengenai buku apa saja yang ada di situ. Di rak bagian atas aku melihat berjejer rapi
buku-buku dengan berbagai tema, ada keagamaan, ilmu sosial, pengembangan diri
& motivasi, sejarah, dan bahasa. Mataku terbelalak ketika menyaksikan
barisan kamus berbagai bahasa dengan berbagai ukuran dan ketebalan halaman
terletak di rak paling bawah. Ada kamus bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa
Prancis, bahasa Spanyol, bahasa Korea, bahasa Mandarin, bahkan bahasa Belanda
pun ada! Alamak, selain kutu buku dia juga suka belajar bahasa asing. Aku
menduga salah satu alasan belajar bahasa asing baginya adalah ingin mendapatkan
pasangan bule dan hijrah ke sana. Awas saja kalau aku tidak diundang.
Setelah puas
melihat-lihat buku yang kalau ditotal mungkin berjumlah di atas 100,
kumengarahkan pandangan ke sebelah kanan kamar. Disitu ada kasur spring
bed dengan sprei berwarna kuning yang senada dengan warna tembok dan bermotif
bunga. Di depan kasur ada lemari kayu berbentuk balok dengan lebar kurang lebih
1,5 meter yang menghadap ke arah barat. Tahukah kau apa yang terletak di atas
lemari itu? Lagi-lagi kalau kau jawab dengan koleksi sepatu atau tas,
jawabannya sangat salah. Karena yang
berada di sana adalah BUKU. Iya, barisan buku lagi. Dari judul-judulnya, buku
tersebut banyak yang membahas tentang Ilmu Komunikasi. Oh iya, aku ingat! Teman
kost temanku ini kuliah di jurusan KPI, pantas saja!
Lima menit sudah aku
menunggu temanku, tapi belum ada tanda-tanda dia akan datang. Tidak ada pesan
yang masuk dari dia. Entahlah, aku bosan. Aku mau baca buku saja. Buku sejarah
sepertinya menarik (mengambil buku sejarah). Kamar ini lebih kelihatan seperti
perpustakaan pribadi dibandingkan dengan kamar pribadi atau kamar kost pada
umumnya. Aku hanyut dalam bacaanku.
“Doooorrrrr!!!”.
Astaghfirullah, aku kaget donk. “Serius banget bacanya, Neng. Maaf ya kamu
sudah menungguku lama. Tadi, aku mampir dulu ke ATM dan warung makan. Yuuk
makan bareng,” temanku menjelaskan panjang lebar. Kalau ada makanan begini kan
aku jadi tambah semangat hehe.

0 Komentar