Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Pria Berkacamata

 

Pria Berkacamata
(Pexels/Andrea Piacquadio)

Sebenarnya tulisan ini nggak penting-penting amat, tapi pengen aku tulis saja. Alasannya, dari kejadian ini aku jadi suka ngobrol dengan orang asing ketika ada di tempat umum tanpa perlu tahu siapa namanya.

05/08/2018

Tepatnya hari Minggu. Dua hari setelah ulang tahunku. Aku mengajak seorang sahabat untuk jogging di Monas. Bukankah kita juga perlu refreshing di tengah perjuangan mencari kerja? Begitulah. Terkadang kita suka lupa untuk istirahat dan bersenang-senang barang sebentar di tengah kemelut hidup yang melanda.

Pagi itu sangat cerah. Aku dan Nina (bukan nama sebenarnya) berjalan menyusuri jalan menuju monumen yang terletak di pusat Jakarta itu.

Kami memutuskan akan menaiki puncak monas. Karena datangnya terlalu pagi, sedangkan tiket bisa dibeli sekitar jam 08.30, alhasil kami harus menunggu.

Biar nggak capek, aku dan Nina memutuskan untuk duduk sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Kami membincangkan banyak hal waktu itu.

Tiba-tiba saja kami dihampiri seorang pria berkacamata yang membawa tas di punggungnya. Ia bertanya apakah pintu masuknya sudah dibuka?

“Belum, Kak. Kebetulan kami juga lagi menunggu juga,” jawabku.

Aku kira dia bakal pergi, ternyata dia tetap berdiri di dekat kami sambil memainkan ponselnya. Kelihatannya dia datang dari jauh.

Ketika kami beranjak mau ke tempat pembelian tiket karena sudah dibuka, dia malah mengikuti kami. Lalu terjadilah perbincangan seru di antara kami bertiga.

Kami mengobrol banyak hal, termasuk informasi pribadi. Ternyata dia adalah freshgrad dari ITS. Dia bukan orang Jakarta. Alasannya ke ibu kota adalah ingin bertemu dengan teman-temannya sekaligus merayakan ulang tahun salah satu di antara mereka.

Pria berkacamata datang duluan, sementara teman-temannya masih dalam perjalanan dan akan sampai agak siangan. Yah, mungkin biar nggak bosan nunggu, akhirnya dia ikut denganku dan Nina sampai di cawan Monas.

Aku juga bertanya-tanya soal kehidupannya sebagai mahasiswa. Bagaimana rasanya. Oh iya, dia mengambil jurusan teknik kelautan. Dia sempat menceritakan prosesnya mengerjakan penelitian untuk skripsi di salah satu wilayah di Jawa Tengah.

Pokoknya dia berbagi banyak hal. Hingga akhirnya kami berpisah karena teman-temannya sudah pada sampai. Kami mengucapkan terima kasih. Obrolan yang terjadi pun cukup berkesan bagiku.

Satu saja yang paling kusesalkan. Ya, aku tidak pernah bertanya siapa namanya (inilah yang nantinya sering aku lakukan ketika berada di tempat umum, yakni mengajak orang asing ngobrol sok akrab tanpa mempertanyakan namanya) haha. Kalau gini kan jadi makin penasaran dan nggak bisa nyari sosmed doi buat stalking. Begitulah. Sekian!

Posting Komentar

0 Komentar