![]() |
| (www.pexels.com) |
Indonesia merdeka pada tahun 1945, yang artinya pada tahun 2045
Indonesia akan memasuki usia 100 tahun kemerdekaan. Usia tersebut dipandang
sebagai usia emas suatu Negara dalam mencapai tahap pendewasaan. Diharapkan
pada tahun tersebut Indonesia mampu menjadi Negara yang lebih maju dan
berkembang. Untuk mencapainya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Banyak hal yang harus dibenahi, diantaranya adalah sistem pendidikan.
Pentingnya pendidikan dalam memajukan manusia tidak diragukan lagi.
Pendidikan merupakan indikator bagi kemajuan dan kemakmuran suatu negara.
Banyak hal yang bisa negara capai jika memiliki masyarakat yang sadar akan
peran pengetahuan dalam meningkatkan taraf kehidupan. Lantas, bagaimana kondisi
sistem pendidikan di Indonesia? Ini adalah salah satu pertanyaan yang mesti
dijawab.
Sistem pendidikan Indonesia saat ini dianggap masih berstandar pada
nilai individu. Akibatnya, banyak diantara siswa yang hanya mengejar “bagaimana
mendapatkan nilai yang tinggi dan mendapatkan peringkat di kelas” daripada
“bagaimana menerapkan nilai pendidikan yang di dapatkan di sekolah agar bisa
diimplementasikan di masyarakat.”
Keduanya sama-sama mengejar nilai. Akan tetapi, nilai yang dikejar pada
pertanyaan kedua tentu yang akan menjadikan pendidikan di Indonesia menjadi
lebih baik.
Dalam sejarahnya, Indonesia dikenal sebagai negara yang suka
bergotong royong. Nilai-nilai gotong royong ini tidak hanya sebatas pada
kegiatan kemasyarakatan saja. Gotong royong bisa juga diterapkan pada
pendidikan dengan menggunakan strategi cooperative learning. Kooperasi (cooperative)
memiliki pengertian sebagai bekerja sama agar tercapai tujuan bersama. Sedangkan pembelajaran (learning) merupakan
proses, cara, perbuatan menjadikan belajar (KBBI).
Pembelajaran kooperatif (cooperative
learning) adalah proses dalam kegiatan belajar mengajar yang melibatkan
penggunaan kelompok-kelompok kecil yang memungkinkan siswa untuk bekerja secara
bersama-sama di dalamnya guna memaksimalkan pembelajaran mereka sendiri dan
pembelajaran satu sama lain (Johnson et al.,
2019). Dari pengertian tersebut bisa disimpulkan
bahwasanya untuk menerapkan pembelajaran yang kooperatif harus melibatkan peran
aktif dari guru dan siswa. Ada tingkatan
skil kooperatif yang perlu diajarkan dalam pelaksanaannya, yaitu forming,
functioning, formulating, dan fermenting.
Forming (membentuk)
merupakan skil permulaan yang bertujuan untuk mengorganisasikan
kelompok-kelompok dalam proses pembelajaran dan menciptakan norma-norma yang
sesuai. Diantara perilaku yang diperlukan dalam skil pembentukan adalah
berpindah ke kelompok masing-masing yang telah dibentuk dengan tanpa keributan
dan mengganggu orang lain, tetap bersama kelompok yang sudah dibuat, mengontrol
suara agar suasana tetap kondusif, mendorong masing-masing anggota kelompok
untuk aktif berpartisipasi, menyebut dengan nama anggota kelompok dan
memperhatikan materi yang sedang diajarkan.
Functioning (memungsikan)
adalah mendorong kelompok untuk mengelola usaha untuk menyelesaikan tugas-tugas
yang diberikan dan menjaga agar hubungan kelompok berjalan efektif.
Skil-skilnya meliputi: pemberian pengarahan kepada kelompok kerja terhadap
tujuan dari tugas dan batasan waktunya, pemberian dukungan dan penerimaan baik
secara verbal maupun non verbal, permintaan bantuan atau klarifikasi dari apa
yang sudah dikatakan atau dikerjakan dalam kelompok, tidak malu untuk
menawarkan diri memberikan penjelasan atau klarifikasi, dan pemberian motivasi
kepada anggota lain ketika motivasi melemah.
Formulating (merumuskan)
bertujuan untuk memaksimalkan pembelajaran masing-masing anggota kelompok
dengan menggunakan metode-metode formal guna memroses materi yang sedang
dipelajari sehingga membutuhkan adanya peran masing-masing anggota. Peran-peran tersebut adalah perangkum,
korektor, pelaksana elaborasi, penolong memori, pemeriksa pemahaman, pencari
bantuan, dan fasilitator penjelasan.
Formenting (mengembangkan) merupakan skil yang membentuk
siswa agar memiliki kemampuan melibatkan diri dalam berbagai kontroversi
akademik. Adapun skil yang dilibatkan dalam keterampilan akademik adalah
mengkritisi ide dengan tanpa mengkritik orangnya, mengetahui saat-sat muncul
ketidaksepakatan di dalam kelompok pembelajaran, mengintegrasikan
gagasan-gagasan yang berbeda dengan mencari titik persatuannya, dan menguji
realitas dengan mengevaluasi hasil kerja kelompok.
Sekian dari penjelasan mengenai cooperative learning
yang diharapkan bisa memperbaiki sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Presiden
ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pernah berkata:
“Dalam transformasi menuju Indonesia 2045, diperlukan visi dan strategi
besar, yang dijalankan oleh segenap komponen bangsa yang benar-benar bersatu
dan mau bekerja keras di bawah kepemimpinan putra - putri terbaik bangsa.”
Semoga kita semua bisa mengambil peran dalam
rangka mewujudkan Indonesia emas 2045.
Esai tersebut sebagai PEMENANG HARAPAN pada lomba esai yang diadakan oleh The Yudhoyono Institute

0 Komentar