Hot Posts

6/recent/ticker-posts

3 Hal yang Memicu Kelahiran Keduaku

 

Deva La Exploradora - Deva Yohana
(Masih memantau posisi jodoh :V)

Selama menjalani hidup, apakah kamu pernah merasakan dirimu yang sekarang berbeda dengan diri kamu yang sebelumnya? Bukan perkembangan fisik yang aku maksud. Wajah masa anak-anakmu pasti berbeda dengan mukamu di masa kiwari.

Maksudku adalah sikap, mental, dan pemikiranmu yang berkembang ke arah yang tidak pernah kamu duga sebelumnya. Rasanya seperti kamu merasakan kelahiranmu yang “kedua”, merasakan dirimu sebagai orang yang baru.

Btw, pembahasan kelahiran kedua ini terinspirasi dari video YouTube yang aku tonton beberapa hari yang lalu di acara Beginu dengan bintang tamu Reza Wattimena.

Cerita Reza tentang kelahiran kedua, bahkan ketiganya memicuku untuk merenung. Aku merasakan hal yang sama juga nggak sih? Setelah dipikir-pikir, jawabannya adalah IYA.

Jika flashback ke belakang, kelahiran keduaku terjadi pada masa SMA. Apa yang begitu mempengaruhiku waktu itu? Jawabannya adalah mulai tumbuhnya kecintaanku pada buku, bahasa, dan karya sastra.

1.    Kecintaan pada Buku

Banyak yang bertanya padaku, “sejak kapan kamu suka baca buku?, kok bisa sih suka baca?, baca buku mulu ih.” Jawaban untuk pertanyaan kedua dan ketiga adalah karena aku sudah mencintai buku. kalau sudah cinta aku bisa apa? Sesimpel itu.

Nah, jawaban untuk pertanyaan pertama adalah sejak SMA kelas X. Anyway, aku tidak lahir di keluarga yang cinta membaca. Dari sini aku sadar bahwa mencintai buku bisa dilatih, lho.

Waktu itu ada kesenangan yang luar biasa saat bisa membeli buku pakai uang sendiri. Aku terinspirasi dari cerita mamaku yang pada masa mudanya suka beli baju pakai uang hasil keringatnya sendiri.

Aku rela menggunakan setengah dari uang sakuku yang tidak seberapa itu untuk membeli buku. Aku sempat diejek teman karena jajannya-itu-itu-mulu. Selama tiga tahun sekolah SMA, berapa kali aku marung di kantin pun bisa dihitung jari.

Aku rajin berpuasa Senin dan Kamis supaya uang yang akan kupakai buat beli buku bertambah seiring dengan tidak digunakannya uang untuk jajan.

Aku mencatat di atas kertas buku apa saja yang ingin kubeli. Meskipun tidak semua mampu kebeli, namun ketika berhasil membeli beberapa buku di antaranya menimbulkan rasa bahagia yang tidak terkira.

Waktu itu, aku sempat bercita-cita untuk mengoleksi semua buku karya Setia Furqon Khalid dan Felix Siaw. Kurang lebih ada lima buku SFK yang kubeli dan dua buku karya FS.

Kecintaan membaca buku masih berlanjut sampai sekarang. Aku tidak membatasi diri dengan bacaan tertentu. Aku suka membaca tentang apa saja, selagi aku merasa nyaman membaca buku tersebut. Tentu, aku mendapatkan banyak sekali manfaat dari hobi yang menurut beberapa orang tergolong membosankan.

2.    Interaksi dengan Bahasa

Aku ingat sekali, rasa penasaranku terhadap bahasa asing terpancing karena pertanyaan guru bahasa Inggris saat di kelas X. Kira-kira seperti ini dialog yang terjadi di antara kami.

Siapa di sini yang punya Facebook? Silakan angkat tangan.

(hampir semua angkat tangan)

Saya yakin kalian semua di sini memanfaatkan Facebook hanya untuk berteman dengan lingkaran pertemanan kalian saja. Orang itu lagi. Teman yang itu lagi. Coba deh bikin FB khusus buat mencari teman orang asing terus ngobrolnya pakai bahasa Inggris.

Iya juga yah adalah jawabanku dalam hati sebagai respon dari pernyataan Pak Guru. Memang benar, kok, daftar temanku di Facebook cuma itu-itu saja.

Nah, dari situlah aku tertantang untuk membuat FB yang pertemanannya khusus dengan orang asing. Waktu itu, aku berhasil berteman dengan orang Brazil dan Filipina. Bahkan, dengan orang Filipina aku masih berteman sampai sekarang.

Itulah yang memicu rasa penasaranku terhadap bahasa, terutama bahasa Inggris. Sayangnya, aku hanya boleh ikut kursus menjelang UN. Lama sekali. Aku pun mencari cara lain agar bisa mencuri start belajar.

Aku rela menghabiskan berjam-jam di warnet (mohon maaf, tempat nongkrongku bukan kafe atau tempat makan haha) untuk mengunduh materi-materi pembelajaran bahasa. Aku lebih suka mempelajari rumitnya grammar daripada membaca teori ekonomi, terutama akuntansi. Mata pelajaran bahasa Inggris dan Prancis adalah favoritku di sekolah. Tugas menulis aksara Jawa selalu kutunggu.

3.    Dialog dengan Karya Sastra

Pada masa ini juga aku mulai berinteraksi dengan banyak novel. Yah, bacaan karya sastraku pada masa SMA tak jauh-jauh dari tema romantisme; novel islami, mengikuti tren waktu itu; dan pengembangan diri/motivasi.

Sayangnya, aku belum teredukasi mengenai buku bajakan. Aku banyak membaca novel dalam bentuk PDF. Aku sering mengorbankan waktu bermainku demi menghabiskan cerita dalam novel yang selalu membuat ketagihan.

Aku melahap novel-novel karya Andrea Hirata, Tere Liye, Raditya Dika, Habiburrahman El Shirazy, dan penulis lainnya. Beberapa novel ceritanya sangat mengena, bahkan sangat mempengaruhi hidupku.

Aku berani bilang kalau hidupku berubah karena terpengaruh karya sastra, terutama novel. Mengenai ini akan secara khusus kujelaskan di blog Kulik Sastra.

Dari interaksiku dengan tiga hal di atas; buku, bahasa, dan karya sastra, aku merasa diriku mengalami transformasi. Pikiranku semakin terbuka. Pergaulanku semakin luas. Caraku berkomunikasi tambah membaik.

Aku juga sering mengalami “oh! Moment” saat membaca buku. Aku semakin sadar bahwa dunia ini sangat berwarna. Tentu, proses menjadi orang yang lebih baik itu masih terus berjalan sampai sekarang. Bahkan, proses pembelajaran ini akan berlangsung seumur hidup.

Posting Komentar

0 Komentar