![]() |
| (Masih memantau posisi jodoh :V) |
Selama menjalani
hidup, apakah kamu pernah merasakan dirimu yang sekarang berbeda dengan diri
kamu yang sebelumnya? Bukan perkembangan fisik yang aku maksud. Wajah masa
anak-anakmu pasti berbeda dengan mukamu di masa kiwari.
Maksudku adalah
sikap, mental, dan pemikiranmu yang berkembang ke arah yang tidak pernah kamu
duga sebelumnya. Rasanya seperti kamu merasakan kelahiranmu yang “kedua”,
merasakan dirimu sebagai orang yang baru.
Btw, pembahasan kelahiran kedua ini
terinspirasi dari video YouTube yang aku tonton beberapa hari yang lalu di
acara Beginu dengan bintang tamu Reza Wattimena.
Cerita Reza
tentang kelahiran kedua, bahkan ketiganya memicuku untuk merenung. Aku
merasakan hal yang sama juga nggak sih? Setelah dipikir-pikir,
jawabannya adalah IYA.
Jika flashback
ke belakang, kelahiran keduaku terjadi pada masa SMA. Apa yang begitu
mempengaruhiku waktu itu? Jawabannya adalah mulai tumbuhnya kecintaanku pada
buku, bahasa, dan karya sastra.
1.
Kecintaan pada Buku
Banyak yang
bertanya padaku, “sejak kapan kamu suka baca buku?, kok bisa sih suka baca?,
baca buku mulu ih.” Jawaban untuk pertanyaan kedua dan ketiga adalah karena
aku sudah mencintai buku. kalau sudah cinta aku bisa apa? Sesimpel itu.
Nah, jawaban untuk pertanyaan pertama adalah
sejak SMA kelas X. Anyway, aku tidak lahir di keluarga yang cinta
membaca. Dari sini aku sadar bahwa mencintai buku bisa dilatih, lho.
Waktu itu ada
kesenangan yang luar biasa saat bisa membeli buku pakai uang sendiri. Aku terinspirasi
dari cerita mamaku yang pada masa mudanya suka beli baju pakai uang hasil
keringatnya sendiri.
Aku rela
menggunakan setengah dari uang sakuku yang tidak seberapa itu untuk membeli
buku. Aku sempat diejek teman karena jajannya-itu-itu-mulu. Selama tiga
tahun sekolah SMA, berapa kali aku marung di kantin pun bisa dihitung
jari.
Aku rajin
berpuasa Senin dan Kamis supaya uang yang akan kupakai buat beli buku bertambah
seiring dengan tidak digunakannya uang untuk jajan.
Aku mencatat di
atas kertas buku apa saja yang ingin kubeli. Meskipun tidak semua mampu kebeli,
namun ketika berhasil membeli beberapa buku di antaranya menimbulkan rasa
bahagia yang tidak terkira.
Waktu itu, aku sempat
bercita-cita untuk mengoleksi semua buku karya Setia Furqon Khalid dan Felix
Siaw. Kurang lebih ada lima buku SFK yang kubeli dan dua buku karya FS.
Kecintaan membaca
buku masih berlanjut sampai sekarang. Aku tidak membatasi diri dengan bacaan
tertentu. Aku suka membaca tentang apa saja, selagi aku merasa nyaman membaca
buku tersebut. Tentu, aku mendapatkan banyak sekali manfaat dari hobi yang
menurut beberapa orang tergolong membosankan.
2.
Interaksi dengan Bahasa
Aku ingat sekali,
rasa penasaranku terhadap bahasa asing terpancing karena pertanyaan guru bahasa
Inggris saat di kelas X. Kira-kira seperti ini dialog yang terjadi di antara
kami.
Siapa di sini
yang punya Facebook? Silakan angkat tangan.
(hampir semua
angkat tangan)
Saya yakin
kalian semua di sini memanfaatkan Facebook hanya untuk berteman dengan
lingkaran pertemanan kalian saja. Orang itu lagi. Teman yang itu lagi. Coba deh
bikin FB khusus buat mencari teman orang asing terus ngobrolnya pakai bahasa
Inggris.
Iya juga yah adalah jawabanku dalam hati sebagai
respon dari pernyataan Pak Guru. Memang benar, kok, daftar temanku di
Facebook cuma itu-itu saja.
Nah, dari situlah aku tertantang untuk membuat FB yang
pertemanannya khusus dengan orang asing. Waktu itu, aku berhasil berteman dengan orang Brazil dan Filipina. Bahkan,
dengan orang Filipina aku masih berteman sampai sekarang.
Itulah yang
memicu rasa penasaranku terhadap bahasa, terutama bahasa Inggris. Sayangnya, aku
hanya boleh ikut kursus menjelang UN. Lama sekali. Aku pun mencari cara lain
agar bisa mencuri start belajar.
Aku rela
menghabiskan berjam-jam di warnet (mohon maaf, tempat nongkrongku bukan kafe
atau tempat makan haha) untuk mengunduh materi-materi pembelajaran bahasa. Aku
lebih suka mempelajari rumitnya grammar daripada membaca teori ekonomi,
terutama akuntansi. Mata pelajaran bahasa Inggris dan Prancis adalah favoritku
di sekolah. Tugas menulis aksara Jawa selalu kutunggu.
3.
Dialog dengan Karya Sastra
Pada masa ini
juga aku mulai berinteraksi dengan banyak novel. Yah, bacaan karya sastraku
pada masa SMA tak jauh-jauh dari tema romantisme; novel islami, mengikuti tren
waktu itu; dan pengembangan diri/motivasi.
Sayangnya, aku
belum teredukasi mengenai buku bajakan. Aku banyak membaca novel dalam bentuk
PDF. Aku sering mengorbankan waktu bermainku demi menghabiskan cerita dalam
novel yang selalu membuat ketagihan.
Aku melahap
novel-novel karya Andrea Hirata, Tere Liye, Raditya Dika, Habiburrahman El
Shirazy, dan penulis lainnya. Beberapa novel ceritanya sangat mengena, bahkan
sangat mempengaruhi hidupku.
Aku berani bilang
kalau hidupku berubah karena terpengaruh karya sastra, terutama novel. Mengenai
ini akan secara khusus kujelaskan di blog Kulik Sastra.
Dari interaksiku
dengan tiga hal di atas; buku, bahasa, dan karya sastra, aku merasa diriku
mengalami transformasi. Pikiranku semakin terbuka. Pergaulanku semakin luas. Caraku
berkomunikasi tambah membaik.
Aku juga sering mengalami “oh! Moment” saat membaca buku. Aku semakin sadar bahwa dunia ini sangat berwarna. Tentu, proses menjadi orang yang lebih baik itu masih terus berjalan sampai sekarang. Bahkan, proses pembelajaran ini akan berlangsung seumur hidup.

0 Komentar