Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Lelaki Hebatku

scoopempire.com
Catatan 2 Mei 2020

Tugas penerjemahan kali ini benar-benar menyita pikiranku. Deadline yang seharusnya tiga hari malah aku selesaikan dalam waktu lima hari. Rasanya aku harus mikir keras. Aku juga heran kenapa bisa selama ini mengerjakannya? Alasan yang paling logis yang bisa aku sampaikan adalah ”karena sedang UTS, Pak”. Tapi aku tidak berharap ditanya alasannya apa. Akibat dari tugas yang tidak selesai-selesai ini akhirnya aku harus merelakan waktu tidur malamku. Yap, aku begadang bahkan sampai siang tidak tidur-tidur.

Ditengah-tengah mengerjakan tugas ini, sekitar pukul 8.00 pagi ada sepupu dan bibiku yang sedang mampir di rumah nenekku, kebetulan bapak dan mamaku juga berada di sana. Aku sedang mengerjakan tugasku di rumah itu. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan pertanyaan dari sepupuku itu.

Sepupu : “Deva, kamu sedang dekat dengan siapa?”

Aku : “Nggak ada!”

Mama : “Dia kan lagi fokus dulu sama belajarnya.”

Bapak : “Iya, fokus belajar dulu.”

Sepupu : “Wahh.. hebat ya..”

Sejenak aku berpikir, bukan aku yang hebat tetapi bapakku lah yang hebat. Kalau bukan karena pernah dilarang oleh beliau untuk berpacaran, mungkin aku tidak bisa seperti yang sekarang ini. Semoga saja bisa istiqamah sampai nanti tiba saatnya seorang laki-laki datang untuk meminangku. Wkwkwkwk

Pikiranku melayang pada saat liburan sekolah setelah Ujian Nasional SD. Aku dan kakakku pergi ke Jakarta untuk mengisi waktu kosong kami sebelum mendaftar ke jenjang SMP. Di sana kami membantu bapak kami, entah  mengupas telur atau membungkus kerupuk. Yup, bapak kami bekerja sebagai pedagang kaki lima yang menjual ketupat sayur. Tapi jangan salah, Ketupat Sayur bapakku itu ketupat yang paling enak sedunia lho, setidaknya menurutku :D.

Mengetahui kalau aku dan kakakku akan menginjak ke bangku SMP (karena kebetulan aku dan kakakku satu angkatan), pada suatu hari bapak ingin mengatakan sesuatu yang serius pada kami. Sungguh, aku sangat penasaran dengan apa yang akan bapak katakan kepada kami.

Bapak : “Kalian berdua sekarang sudah mau sekolah SMP ya. Waktu cepat sekali berlalu.”

Aku : “Iya, Pak. Doakan kami ya, Pak. ”

Bapak : “Bapak selalu mendoakan semua anak-anak bapak. Semoga semuanya menjadi anak yang sukses. ”

Aku & kakakku : Aamiin Ya Allah.

Bapak : “Begini, bapak ingin berpesan kepada kalian berdua. Kalian jangan dulu mikir pacar-pacaran ya. Fokus belajar dulu saja. Belajar yang bener biar menjadi  anak yang pintar, karena tugas kalian sebagai pelajar adalah belajar.”

Kami : “Baik, Pak.”

Aku sangat mematuhi perkataan bapak tersebut. Menginjak SMP ada beberapa laki-laki yang mencoba mendekatiku untuk mengajak berpacaran. Aku kekeh menolak mereka. Alasanku klise sekali “dilarang oleh bapakku.” Beberapa diantara mereka tidak memaksa, tetapi tetap saja ada juga yang memaksa. “Kan bapak kamu tidak tahu kalau kita berpacaran. Kita kan bisa diam-diam.” Kata mereka. “TIDAK.”, jawabku tegas. Bagiku kepercayaan bapakku kepadaku adalah segalanya. Kepatuhanku kepadanya adalah kewajiban selagi masih menyangkut kebenaran. Apakah ada yang salah dari larangan bapakku itu? Tidak ada. Malah aku bersyukur, berkat itu semua prestasi akademikku meningkat. Aku yang ketika SD hanya mendapatkan peringkat di antara 10 besar kini bisa menjadi 3 besar bahkan 2 besar. Alhamdulillah.

Jujur, aku menangkap pesan bapak tadi hanya berlaku untuk masa SMP saja. Sehingga menjelang lulus SMP tepatnya ketika kelas 3 SMP aku sempat menyatakan rencanaku kepada seorang teman untuk berpacaran ketika menginjak SMA. “Kalau di SMA itu cowoknya ganteng-ganteng,” kata temanku. Mendengar itu aku langsung bersemangat wkwk. Ya, aku akan berpacaran kalau sudah SMA nanti.

Sepupuku menikah tepat beberapa bulan menjelang kelulusanku dari SMP. Aku menjadi pagar ayu waktu itu. Tentu saja semua keluarga besarku berkumpul termasuk laki-laki kesayanganku, bapakku. Siang itu, aku tiba-tiba dipanggil bapak untuk duduk bersama di ruang tamu. Hanya ada aku dan beliau. Kami berbicara empat mata saja. Aku menduga bapak akan menyampaikan sesuatu padaku. Benar saja!

Bapak : “Sebentar lagi kamu mau menginjak ke bangku SMA ya.”

Aku : “Iya, Pak. Nggak nyangka ya…”

Bapak : “kalau SMA nanti nggak usah mikir pacar-pacaran ya. Fokus belajar saja biar jadi anak yang pintar.”

Aku : (seperti di sambar petir, merasa seolah-olah bapak tahu rencanaku) “Iya, Pak.”

Bapak : “Kamu perempuan soalnya. Harus bisa menjaga diri. Harga dirimu di atas segalanya.”

Aku : (terharu) “Iya, Pak. Mohon doanya.”

Aku merasa terpukul dan bersalah karena pernah merencanakan untuk berpacaran. Oh, bapak… maafkan anak gadismu ini.

www.teepublic.com

Bulan puasa sudah tiba. Bulan yang istimewa dan yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh semua umat Islam di seluruh dunia. Selama bulan puasa, bapakku selalu berada di rumah. Kami selalu menghabiskan bulan puasa bersama-sama. Ngomong-ngomong, kini aku sudah SMA. Aku bersekolah di salah satu SMA yang ada di daerahku. Aku mengambil jurusan IPS.

Tak kusangka, aku terlibat pembicaraan empat mata lagi dengan bapakku. Kami terlibat pembicaraan di ruang tamu, sama seperti sebelumnya. Lagi-lagi aku menduga akan terjadi pembicaraan dengan topik yang serius.

Bapak : “Kamu sudah SMA sekarang. Ingat ya, jangan mikir pacar-pacaran. Sudah pernah bapak sampaikan sebelumnya. Kamu perempuan, kamu harus bisa menjaga diri. Mikir masalah laki-laki nanti saja. Ada waktunya dan itu bukan sekarang. Yang paling penting jadi perempuan yang baik ya. Percayalah, kamu nggak usah nyari laki-laki, laki-lakilah yang akan mendatangimu. Bahkan, bisa jadi mereka mengantre untuk mendapatkanmu.”

Aku hanya terdiam, terharu mendengarnya. Sebegitu besarnya cinta bapak untukku, anak gadis satu-satunya. Pembicaraan dilanjutkan dengan cerita bapak tentang “penyesalan seorang wanita”. Tidak perlu aku jabarkan di sini. Akan terlalu panjang tulisan ini jadinya.

Tapi masih ada sesuatu yang mengganjal dibenakku. Kenapa bapak sebegitu melarangku untuk berpacaran ya? Aku merenungi pertanyaan itu di kamarku. Kira-kira ada enggak ya jawaban yang lebih membuatku yakin? Tiba-tiba aku teringat semboyan ‘say no to drugs’. Pertanyaannya, kalau ada semboyang ‘say no to drugs’, apakah ada juga semboyan ‘say no to pacaran’? dengan penuh semangat aku mencari jawabannya di google. Aku terharu karena banyak sekali artikel yang membahas tentang SAY NO TO PACARAN yang membuatku semakin yakin dan menjadikannya prinsip hidupku. Terima kasih, bapak. :* semoga aku berjodoh dengan laki-laki yang saleh sesuai doamu dan doaku. Aamiin…

Posting Komentar

0 Komentar