Sekitar dua hari yang lalu, aku membaca sebuah buku yang berjudul “Jatuh
Cinta Pada Al-Qur’an” karya Amin M. Ariza. Menurutku, bukunya bagus dan recommended
buat dibaca. Well, jadi apa sih hubungan dari judul cerita ini dengan buku
tadi? Ada nih. Pas aku nemu kata-kata berikut ini yang untungnya sudah aku
screenshoot dan kepikiran untuk dijadikan tulisan.
Apa yang kalian rasakan setelah membaca kata-kata diatas? Semakin takjub
dengan Al-Qur’an, bukan? Maa syaa Allah. Ketika selesai membaca itu, aku
langsung teringat sebuah cerita. Ceritaku dengan bapakku yang terjadi beberapa
tahun yang lalu. Tentu, ada kaitannya dengan gambar diatas.
Siang itu aku sedang duduk bersama bapakku di depan rumah nenekku. Aku
memang sangat dekat dengannya. Bapak kemudian membuka pembicaraan dengan
menceritakan kisahnya. Aku antusias melihat bapak yang akan bercerita. Dengan
penuh semangat aku menyiapkan diri untuk fokus mendengarkan beliau.
Bapak : “kamu tahu, dulu bapak pernah duduk persis di sini bersama dengan
kakekmu.”
Aku : “Oh ya, Pak? Terus… terus…” (serius nyimak)
Bapak : “Bapak waktu itu masih kecil. Rumah kita ini dulunya kebun milik
seseorang. Jujur saja, melihat kebun itu bapak ingin sekali memilikinya. Kemudian
di tengah obrolan dengan kakekmu, bapak bertanya, ‘apakah aku bisa membuat
rumah di kebun itu, Pak?.’ Dengan lantang kakekmu menjawab, ‘Pasti bisa!’. Tidak
bapak sangka, beberapa tahun kemudian bapak bisa membeli tanah di kebun itu. Sekarang
kamu lihat sendiri kan? Di tempat yang bapak bilang tadi berdiri rumah yang
bapak bangun untuk keluarga kita.”
Aku tidak menjawab apa-apa, hanya mengangguk setuju. Kagum dengan cerita
bapak.
Entahlah! Cerita bapak tersebut
begitu membekas di memoriku. Bahkan, aku masih mengingat detail ceritanya
sampai sekarang. Seingatku cerita itu diceritakan ketika aku masih SMA. Entah
pas kelas X atau kelas XI. Atau jangan-jangan pas aku masih SMP? Sungguh, aku
lupa persis kapan waktunya. Aku hanya mengingat detail ceritanya saja.
Dari cerita tersebut, aku
menangkap sebuah pesan tersirat. Yup, pesan tersebut adalah apa pun yang kau
inginkan atau cita-citakan yakinlah suatu saat nanti bisa terwujud, in syaa
Allah. Aku yakin mimpi-mimpiku juga akan terwujud jika Allah meridhainya.
Menginjak awal kelas XI aku mulai
penasaran dengan yang namanya BAHASA. Ini diawali dengan membuat FB yang list
pertemanannya berisi orang-orang dari luar negeri. Melihat beranda yang isinya
berbahasa Inggris, Arab, Portugis, Prancis, dan lain-lain membuatku penasaran.
Ditambah orang-orang yang mengirim pesan padaku menggunakan bahasa-bahasa
tersebut. Memahami bahasa Inggris saja rasanya sudah cukup untuk bisa chit-chat
dengan mereka. Tapi aku sadar
penguasaanku terhadap bahasa Inggris masih sangat terbatas. Aku jadi ingin cepat-cepat menguasai bahasa Inggris
dan mempelajari bahasa asing lainnya. Terdengar menyenangkan, bukan?
Sore itu hujan turun dengan lebatnya. Awalnya, aku sedang ngobrol dengan
ibu, adik dan sepupuku di ruang tamu.
Ditengah-tengah obrolan tersebut tiba-tiba kami membahas bahasa Inggris. Mamaku
dengan bangganya mengatakan pada sepupuku mengenai nilai bahasa Inggrisku yang
tinggi ketika masih kelas 3 SD. Aku mendengarnya tidak percaya. Emang iya apa?
Penasaran, aku langsung membuka rapor SDku. Ternyata benar! Terpampang nilaiku
pada saat masih kelas 3 SD semester 2 sebesar 97 :v. kok bisa ya sampe segitu
nilainya? Apa mungkin pak gurunya yang salah? Wkwk.. walaupun kulihat nilai
bahasa Inggrisku pada kelas-kelas selanjutnya berkisar antara 76-90,
rasa-rasanya ada semangat baru yang merasuki jiwaku. Kali ini buku bahasa
Inggris yang sedang kuincar harus kubeli dan pelajari! Sejak lama sekali aku
menginginkannya.
Kulihat bapak sedang duduk
sendirian di depan TV. Aku dengan senang hati menghampirinya. Tiba-tiba aku
teringat dengan cerita bapak yang aku ceritakan tadi. Terbesit pertanyaan yang
ingin kutanyakan padanya.
Aku : “Bapak… bapak… aku mau
tanya.”
Bapak : “Mau tanya apa?.”
Aku : “Menurut bapak aku bisa
nggak menguasai bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Mandarin, dan bahasa
asing lainnya yang ada di dunia ini. Menguasai banyak bahasa, pak”
Bapak : “Jangan ditanya, kamu in
syaa Allah bisa donk.” (jawab bapak dengan semangat.)
Aku : (sangat senang dengan
jawaban bapak) “Aamiin yaa Allah, aamiin…”
Bapak : “Tapi… ada yang paling
penting nih..”
Aku : “Wah, apa itu, pak?”
Bapak : “Kamu rajin aja baca Alquran ya… in syaa Allah itu menjadi
kunci.”
Aku : “Iya, pak, iya in syaa
Allah.” (menjawab dengan penuh semangat)
Aku sangat percaya dengan ucapan
bapakku itu. Aku ingat-ingat cerita itu sampai sekarang. Aku masih terus mempelajari keindahan berbagai
bahasa dan masih belajar untuk menguasai beberapa bahasa diantaranya. Kata-kata
pada gambar di atas “mengiyakan” ucapan bapakku.
Semoga ada manfaatnya.. :)

0 Komentar