Hot Posts

6/recent/ticker-posts

MENGIKIS BUDAYA PATRIARKI DI DESA

 

(www.pexels.com)

Hidup di desa menyuguhkan pemandangan yang dianggap luar biasa dan sebuah kehebatan  ketika laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mencuci piring, mencuci baju, memomong anak, dan lain-lain. Sedangkan jika perempuan yang mengerjakannya hanya dianggap sebagai hal yang “biasa”. Padahal sama-sama bisa menyapu dan mencuci, lalu apa perbedaannya? Sejenak ini juga menjadi pertanyaan saya. Apakah kamu juga mempertanyakan hal yang sama, wahai perempuan desa?

Satu lagi, orang-orang desa akan menganggap aneh pada perempuan yang memilih jalan sebagai wanita karier. Jika mendapati seorang istri memiliki ‘jabatan’ yang lebih tinggi dari suami bukannya mendapat pujian si perempuan cenderung mendapat cacian. Selain dalam karier, mayoritas masyarakat desa enggan menyekolahkan anak perempuan mereka ke jenjang perguruan tinggi. “Percuma perempuan sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya juga di dapur,” kata tetangga saya. Oleh karena beranggapan seperti itu, mereka cenderung memberikan fasilitas pendidikan tinggi pada anak laki-laki mereka saja, supaya masa depannya jelas. Kenyataan ini sangat mengganggu saya. Bukankah sebagai perempuan, kamu dan saya, juga diciptakan dengan potensi yang sama?

Apakah ada akar dari masalah ini? Tentu saja ada…

Mari kita sama-sama belajar..

Akar dari semua ini adalah karena masih kuatnya budaya patriarki yang ada di desa (kita). Ideologi patriarkisme pun masih melanda sebagian besar masyarakat di belahan dunia, termasuk Indonesia. Adapun pengertian dari ideologi patriarkisme sendiri adalah sebuah gagasan ideologis yang mempercayai laki-laki sebagai makhkuk superior, menguasai dan mendefinisikan struktur sosial, ekonomi, kebudayaan, dan politik dengan perspektif laki-laki. (Hearty, 2015). Kajian mengenai budaya patriarki tidak akan lepas dari adanya para feminis yang berjuang demi terwujudnya  kesetaraan gender. Kesetaraan gender bukan berarti kita melawan laki-laki. Akan tetapi inilah cara kita membebaskan diri sebagai manusia merdeka, baik dalam berpikir maupun bertindak. Seharusnya kita bisa memilih apa yang akan kita lakukan di masa depan, tidak hanya berpasrah pada keadaan saja. Apalagi jika keadaan tersebut adalah karena kita ‘perempuan’.

Masalah utama yang dihadapi adalah karena adanya bias terhadap penafsiran dari arti gender yang sebenarnya. Bahkan, sekaliber KBBI masih kurang tepat, untuk tidak mengatakan salah, dalam mengartikan gender sebagai ‘jenis kelamin’. Itulah mengapa banyak orang yang menyamakan antara seks dan gender yang menurut mereka memiliki arti yang sama yaitu jenis kelamin. Padahal ada perbedaan yang sangat menonjol diantara keduanya. Seks adalah kodrat, sedangkan gender adalah hasil dari konstruksi dan kesepakatan masyarakat.

Dr. Dra. Alifiulahtin Utaminigsih, MSi. dalam bukunya yang berjudul "Gender dan Wanita Karir" menjelaskan bahwa seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasikan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwasanya seks merujuk kepada perbedaan perempuan dan laki-laki dalam hal jenis kelamin, alat reproduksi, hormon, dan ciri-ciri fisik lainnya. Sedangkan gender berbeda dengan karakteristik laki-laki dan perempuan dalam arti biologis. Pemaknaan gender mengacu pada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam segi peran, perilaku, kegiatan serta atribut yang dikonstruksikan secara sosial (Utaminingsih, 2017).

Sampai di sini bisa diambil kesimpulan bahwasanya menyapu, mencuci, memasak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya serta bekerja merupakan bagian dari gender, bukan seks. Kesepakatan masyarakat selama ini menyatakan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah bagian dari perempuan sedangkan bekerja di luar adalah kewajiban bagi laki-laki. Tentu kamu sebagai perempuan akan tetap ada yang tidak sependapat. Kamu salah sangka jika mengira tujuan saya menulis ini adalah untuk membalikan keadaan dimana laki-laki yang seharusnya menyapu dan kita yang bekerja. Sama sekali tidak. Agar di masa mendatang ketika ada pertanyaan, “kenapa saya harus bisa mencuci, menyapu, memasak?” didapatkan jawaban, “Karena kamu manusia. Kamu harus menguasai bagaimana cara bertahan hidup agar bisa hidup mandiri dan tidak menyusahkan orang lain.” Tentu saja jawaban seperti ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan. Sekian…

 

 

Posting Komentar

0 Komentar