![]() |
| (www.pexels.com) |
Hidup di desa menyuguhkan pemandangan yang
dianggap luar biasa dan sebuah kehebatan
ketika laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti
menyapu, mencuci piring, mencuci baju, memomong anak, dan lain-lain. Sedangkan
jika perempuan yang mengerjakannya hanya dianggap sebagai hal yang “biasa”.
Padahal sama-sama bisa menyapu dan mencuci, lalu apa perbedaannya? Sejenak ini
juga menjadi pertanyaan saya. Apakah kamu juga mempertanyakan hal yang sama,
wahai perempuan desa?
Satu lagi, orang-orang desa akan menganggap
aneh pada perempuan yang memilih jalan sebagai wanita karier. Jika mendapati
seorang istri memiliki ‘jabatan’ yang lebih tinggi dari suami bukannya mendapat
pujian si perempuan cenderung mendapat cacian. Selain dalam karier, mayoritas
masyarakat desa enggan menyekolahkan anak perempuan mereka ke jenjang perguruan
tinggi. “Percuma perempuan sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya juga di dapur,”
kata tetangga saya. Oleh karena beranggapan seperti itu, mereka cenderung
memberikan fasilitas pendidikan tinggi pada anak laki-laki mereka saja, supaya
masa depannya jelas. Kenyataan ini sangat mengganggu saya. Bukankah sebagai
perempuan, kamu dan saya, juga diciptakan dengan potensi yang sama?
Apakah ada akar dari masalah ini? Tentu saja
ada…
Mari kita sama-sama belajar..
Akar dari semua ini adalah karena masih
kuatnya budaya patriarki yang ada di desa (kita). Ideologi patriarkisme pun
masih melanda sebagian besar masyarakat di belahan dunia, termasuk Indonesia.
Adapun pengertian dari ideologi patriarkisme sendiri adalah sebuah gagasan
ideologis yang mempercayai laki-laki sebagai makhkuk superior, menguasai dan
mendefinisikan struktur sosial, ekonomi, kebudayaan, dan politik dengan
perspektif laki-laki. (Hearty, 2015). Kajian mengenai budaya patriarki tidak akan
lepas dari adanya para feminis yang berjuang demi terwujudnya kesetaraan gender. Kesetaraan gender bukan
berarti kita melawan laki-laki. Akan tetapi inilah cara kita membebaskan diri
sebagai manusia merdeka, baik dalam berpikir maupun bertindak. Seharusnya kita
bisa memilih apa yang akan kita lakukan di masa depan, tidak hanya berpasrah
pada keadaan saja. Apalagi jika keadaan tersebut adalah karena kita
‘perempuan’.
Masalah utama yang dihadapi adalah karena
adanya bias terhadap penafsiran dari arti gender yang sebenarnya. Bahkan,
sekaliber KBBI masih kurang tepat, untuk tidak mengatakan salah, dalam
mengartikan gender sebagai ‘jenis kelamin’. Itulah mengapa banyak orang yang menyamakan
antara seks dan gender yang menurut mereka memiliki arti yang sama yaitu jenis
kelamin. Padahal ada perbedaan yang sangat menonjol diantara keduanya. Seks
adalah kodrat, sedangkan gender adalah hasil dari konstruksi dan kesepakatan
masyarakat.
Dr. Dra. Alifiulahtin Utaminigsih, MSi. dalam
bukunya yang berjudul "Gender dan Wanita Karir" menjelaskan bahwa
seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasikan perbedaan laki-laki dan
perempuan dari segi anatomi biologis. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwasanya
seks merujuk kepada perbedaan perempuan dan laki-laki dalam hal jenis kelamin,
alat reproduksi, hormon, dan ciri-ciri fisik lainnya. Sedangkan gender berbeda
dengan karakteristik laki-laki dan perempuan dalam arti biologis. Pemaknaan
gender mengacu pada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam segi peran,
perilaku, kegiatan serta atribut yang dikonstruksikan secara sosial
(Utaminingsih, 2017).
Sampai di sini bisa diambil kesimpulan
bahwasanya menyapu, mencuci, memasak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya serta
bekerja merupakan bagian dari gender, bukan seks. Kesepakatan masyarakat selama
ini menyatakan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah bagian dari perempuan
sedangkan bekerja di luar adalah kewajiban bagi laki-laki. Tentu kamu sebagai
perempuan akan tetap ada yang tidak sependapat. Kamu salah sangka jika mengira tujuan
saya menulis ini adalah untuk membalikan keadaan dimana laki-laki yang
seharusnya menyapu dan kita yang bekerja. Sama sekali tidak. Agar di masa
mendatang ketika ada pertanyaan, “kenapa saya harus bisa mencuci, menyapu,
memasak?” didapatkan jawaban, “Karena kamu manusia. Kamu harus menguasai
bagaimana cara bertahan hidup agar bisa hidup mandiri dan tidak menyusahkan
orang lain.” Tentu saja jawaban seperti ini berlaku untuk laki-laki maupun
perempuan. Sekian…

0 Komentar