![]() |
| Gambaran keruwetan pikiran saya hwhw (pixabay.com) |
Setelah
masa pandemi berlalu, mungkin saat ini Corona masih ada, kini saatnya kembali
ke kehidupan normal. Walaupun masih perlu memakai masker dan harus vaksin,
tidak menghalangi masyarakat untuk beraktifitas seperti sedia kala. Yuhuuu.
Yang
bikin saya sangat happy adalah karena kuliah tidak lagi online. Tidak perlu
lagi saya harus nyari-nyari tempat yang ada sinyalnya atau sengaja ke tempat
sepupu buat numpang Wifi-an + sekalian kuliah di sana.
Memang
sih ada untungnya juga kuliah online. Salah satunya adalah saya menjadi
penghuni rumah yang ada di kampung. Awalnya sama adik, setelah dia bekerja,
tinggallah saya sendirian di rumah.
Survei
yang tidak sengaja saya lakukan dan bersifat pribadi menyatakan bahwa 99,9%
warga sekitar menanyai saya ‘apakah saya berani tinggal di rumah sendirian?’.
Yaelah, kenapa harus takut? Nggak ada apa-apa. Beneran deh.
Keuntungan
lainnya adalah saya bisa kuliah sambil tiduran, seringnya sampai tidur beneran,
enggak perlu pakai baju resmi dan enggak perlu dandan apalagi mandi dulu.
Tapi, ya, ada keuntungan pasti ada kekurangannya kan? Selain
susah sinyal, yang saya rasakan adalah susah mengakses buku-buku yang ada di
perpustakaan. Mau gimana lagi, enggak ada perpus di sini hwhwhw
Kembali ke topik awal. Kuliah
offline emang beda banget sama kuliah online. Suasana belajar di depan layar dan di dalam
kelas bedanya jauh banget. Di kelas saya bisa mengobrol dengan teman-teman,
berdiskusi dengan mereka, dan terkadang belajar bersama.
Yang
membuat saya sedih adalah kenyataan saya sudah semester 7. Wait,, bahasa Arab saya sudah sampai mana ya? Saya
sudah dapat apa saja? Saya sudah pantas jadi sarjana kah? Bacaan saya sudah
banyak? Ilmu saya sudah bisa diterapkan? Dengan spontan saya menutup wajah
sendiri.Merasa sangat malu.

0 Komentar