Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Sobat Cincaiku

 

Deva Yohana


Ini adalah kisah persahabatan antar lima orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Yang membuatnya unik adalah kami disatukan oleh kesukaan kami mempelajari bahasa asing. Program yang aku buat sejak hampir dua tahun lalu berhasil mempererat hubungan kami.

Aku namai grup Whatsapp itu Ngobrol Cincai. Anggotanya adalah aku, Rusdi, Kak Rere, Kak Martin, dan Kak Sanwani. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Meskipun begitu, ikatan kami sebagai teman terjalin erat.

Aku mengenal masing-masing dari mereka dengan kisah yang unik. Sebelum aku menceritakannya satu per satu, izinkan aku untuk menjelaskan latar belakang kenapa sampai tercetus Ngobrol Cincai.

Awal Mula Ngobrol Cincai

Awal 2023 lalu, aku, Rusdi, dan Kak Kanta memutuskan untuk mengadakan program belajar Españolito dan Frencheese vol. 3 yang sudah tertunda selama beberapa kali dengan alasan kesibukan masing-masing.

Kelas tersebut diikuti oleh Kak Sanwani dan Kak Martin sebagai peserta Españolito. Kak Rere dan Kak Sanwani (dia ikut dua kelas) sebagai peserta Frencheese. Pun, Kak Martin suka nimbrung di kelas Frencheese. Aku dan Rusdi berperan sebagai pemateri.

Suatu malam, setelah mengadakan kelas Frencheese, pada pekan berapa aku lupa, kami berlima tidak langsung keluar dari Google Meet setelah sesi belajar usai. Entah mengapa kami tidak ingin beranjak. Kami melanjutkannya dengan sesi ngobrol dengan berbagai tema, terutama tentang pengalaman hidup masing-masing.

Karena obrolan pada malam itu sangat berkesan, kami memutuskan untuk berbincang lagi pada minggu depan setelah sesi belajar Frencheese. Selanjutnya, kami sepakat untuk membuat jadwal khusus yakni setiap Jumat malam, jika tidak ada halangan. Obrolan kami selalu seru. Kadang serius, kadang bercanda. Bahkan, tak jarang sampai pagi menjelang. Sekitar pukul 2 pagi. Gils!

Untuk menampung kebersamaan kami, aku memutuskan untuk membuat grup khusus. Awalnya aku bingung menamai grup tersebut. Aha! Tercetuslah Ngobrol Cincai. Nama itu begitu saja muncul dipikiranku. Aku sudah sering mendengar kata cincai, tapi tak tahu arti persisnya. Aku hanya berpikir nama tersebut cocok untuk grup ini.

Setelah aku telusuri di Google, ternyata cincai artinya “terserah”. Nyambung dengan obrolan kami yang membicarakan semua hal a.k.a terserah mau ngobrol apa saja. Mereka pun tidak keberatan menggunakan nama itu. Kata “cincai” pun sedikit mengalami pergeseran makna. Artinya, kalau kami ingin berbincang pada malam hari, cukuplah kami mengucapkan cincai, yuk! atau malam ini pada bisa cincai nggak?. So, cincai = ngobrol.

Begitulah. Selanjutnya, aku akan membahas mengenai perkenalanku dengan anggota Ngobrol Cincai yang aku sebut sebagai Sobat Cincai. Urutannya aku mulai dari yang pertama aku kenal yak. Keempatnya aku temui di dunia maya.

Kak Rere

Salah satu hal yang aku syukuri dari mempelajari bahasa Spanyol adalah aku bisa mengenal Kak Rere. Kalau tidak salah sejak akhir tahun 2017 dari grup Whatsapp belajar bahasa Spanyol. Kemudian kami juga sama-sama bergabung di Line Square komunitas Dime Por Qué.

Kak Rere berasal dari Banjar, Jawa Tengah. Karena itu, kami juga disatukan oleh penggunaan bahasa Jawa yang sama, yaitu bahasa Ngapak. Dia lulusan Sastra Jepang dari Unsoed.

Hubungan kami cukup erat dengan obrolan-obrolan di chat. Dia juga salah satu orang yang cukup mengikuti perjalanan hidupku. Aku ingat dia menyemangatiku ketika sedang struggle mencari kerja dahulu.

Banyak hal yang aku pelajari dari kisah-kisah Kak Rere selama Ngobrol Cincai berlangsung. Yang jelas dia wanita yang hebat dan menginspirasi. Keceriaannya nular banget. Semoga kita lekas bertemu secara langsung ya, Kak.

Kak Sanwani

Selain Kak Rere, aku juga kenal Kak Sanwani dari grup WhatsApp. Seingatku, aku kenal dia pada tahun 2018. Dia asli Madura, Jawa Timur. Mahasiswa Al- Azhar Mesir. Seingatku dia duluan yang memulai chat personal di WA. Ujung-ujungnya kami saling bertukar sosial media dan saling menjadi follower.

Waktu itu, komunikasi yang terjalin di antara kami tidak begitu erat. Dengan kata lain, kami hanya sekadar saling save nomor saja. Jarang banget chat-chatan. Itu pun bisa dihitung jari. Lagian aku juga nggak tahu harus ngobrolin apa sama dia haha. Nomornya masih aktif atau tidak pun tidak aku cari tahu lebih lanjut.

Pada Agustus 2022, tiba-tiba saja Kak Sanwani DM aku buat nanya kelas bahasa Spanyol. Lalu, aku menyimpan nomor barunya. Karena kelas yang aku janjikan itu tidak terlaksana pada tahun itu, aku sempat meminta maaf dan akan menjadikannya sebagai prioritas ketika Vol. 3 diadakan pada Januari 2023, termasuk memberinya akses untuk mengikuti dua program sekaligus.

Kak Sanwani adalah orang yang paling tidak aku sangka bakal bergabung di obrolan after class itu. Dipikiranku, dia orangnya sedikit tertutup, strict, dan sangat menjaga interaksinya dengan perempuan. Pun, saat aku add di grup Ngobrol Cincai aku tidak yakin dia bakal gabung. Ternyata dugaanku salah haha. Begitulah, terkadang kita suka terjebak oleh prasangka.

Selama sesi cincai itu aku semakin mengenal Kak Sani (nama panggilan yang aku tahu saat pertama kali kenal. Jujur, agak susah mengucapkan nama Sanwani haha). Aku jadi tahu bagaimana lika-liku perjalanan hidupnya yang tidak bisa dibilang mudah.

FYI, dia adalah pencetak rekor bisa chat-an sama aku selama sebulan lebih tanpa jeda haha. Itu terjadi pas bulan puasa lalu. Kami sempat mengobrol banyak sekali hal yang tidak ada habis-habisnya. Pokoknya seru sih wkwk.

Rusdi

Di antara kami berlima, Rusdi adalah yang paling muda. Antara kelahiran 2003 atau 2004. Hmm, aku lupa persisnya. Dia orang Batak yang saat ini menjadi mahasiswa Sastra Prancis di UNNES. Perjumpaanku dengan Rusdi juga dari grup WA. Bedanya, aku kenal dia dari grup Bahasa Prancis.

Hubungan pertemanan kami waktu itu tidak begitu dekat. Cuma saling save nomor dan kenal sekadarnya saja. Aku pun lupa pada peristiwa apa sampai-sampai aku menyimpan nomornya wkwk. Yang jelas aku sempat belajar bahasa Prancis bareng secara online yang diadakan oleh orang Riau. Dia masih SMA waktu itu.

Dia sempat bertanya-tanya tentang bahasa Prancis padaku. Dia juga mengabariku akan mendaftar SNMPTN dan mengambil jurusan Sastra Prancis di UNNES. Aku sangat terharu ketika dia diterima di jurusan tersebut. Aku jadi teringat mimpiku pas SMA yang ingin kuliah di jurusan Sastra Prancis, di UNNES pula.

Kedekatanku dengan Rusdi semakin melekat saat dia mengajukan diri ingin menjadi tutor di program Frencheese. Dia membawakan program ini dengan sangat baik. Dia juga sudah kuanggap seperti adikku sendiri.

Selama Ngobrol Cincai berlangsung aku jadi semakin mengenal Rusdi dan bagaimana perjuangannya. Aku yakin dia akan menjadi orang hebat di masa depan. Semangat terus!!!

Kak Martin

Kak Martin adalah orang terkahir yang aku kenal di antara mereka berempat. Dia adalah peserta program Españolito sejak Vol. 1 (2022). Aku ingat sekali Kak Martin begitu antusias mengikuti program ini. Dia bahkan menghubungiku beberapa kali untuk memastikan dia menjadi bagian di dalamnya. Aku tidak menyangka bisa berteman baik dengannya.

Banyak kisah hidup Kak Martin yang turut meyakinkanku bahwa dia orang yang hebat dan kuat. Perjalan hidup yang dialaminya tidak mudah. Dia mengajarkanku tentang bertahan di tengah kesulitan. Kak Martin juga wawasannya luas banget. Aku banyak belajar darinya.

Sekian untuk perkenalan para sobat cincaiku. Semoga obrolan dan persahabatan kita terus berlanjut dan kita bisa bertemu secara langsung, ygy.

Posting Komentar

0 Komentar