Ini adalah kisah
persahabatan antar lima orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Yang
membuatnya unik adalah kami disatukan oleh kesukaan kami mempelajari bahasa
asing. Program yang aku buat sejak hampir dua tahun lalu berhasil mempererat
hubungan kami.
Aku namai grup
Whatsapp itu Ngobrol Cincai. Anggotanya adalah aku, Rusdi, Kak Rere, Kak
Martin, dan Kak Sanwani. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Meskipun begitu,
ikatan kami sebagai teman terjalin erat.
Aku mengenal masing-masing dari mereka dengan kisah yang
unik. Sebelum aku menceritakannya satu per satu, izinkan aku untuk menjelaskan
latar belakang kenapa sampai tercetus Ngobrol Cincai.
Awal Mula Ngobrol Cincai
Awal 2023 lalu, aku,
Rusdi, dan Kak Kanta memutuskan untuk mengadakan program belajar Españolito dan
Frencheese vol. 3 yang sudah tertunda selama beberapa kali dengan alasan
kesibukan masing-masing.
Kelas tersebut
diikuti oleh Kak Sanwani dan Kak Martin sebagai peserta Españolito. Kak
Rere dan Kak Sanwani (dia ikut dua kelas) sebagai peserta Frencheese. Pun, Kak Martin suka nimbrung di kelas
Frencheese. Aku dan Rusdi berperan sebagai pemateri.
Suatu malam,
setelah mengadakan kelas Frencheese, pada pekan berapa aku lupa, kami berlima tidak
langsung keluar dari Google Meet setelah sesi belajar usai. Entah mengapa kami
tidak ingin beranjak. Kami melanjutkannya dengan sesi ngobrol dengan
berbagai tema, terutama tentang pengalaman hidup masing-masing.
Karena obrolan
pada malam itu sangat berkesan, kami memutuskan untuk berbincang lagi pada
minggu depan setelah sesi belajar Frencheese. Selanjutnya, kami sepakat untuk
membuat jadwal khusus yakni setiap Jumat malam, jika tidak ada halangan. Obrolan
kami selalu seru. Kadang serius, kadang bercanda. Bahkan, tak jarang sampai
pagi menjelang. Sekitar pukul 2 pagi. Gils!
Untuk menampung
kebersamaan kami, aku memutuskan untuk membuat grup khusus. Awalnya aku bingung
menamai grup tersebut. Aha! Tercetuslah Ngobrol Cincai. Nama itu begitu saja
muncul dipikiranku. Aku sudah sering mendengar kata cincai, tapi tak tahu arti
persisnya. Aku hanya berpikir nama tersebut cocok untuk grup ini.
Setelah aku
telusuri di Google, ternyata cincai artinya “terserah”. Nyambung dengan
obrolan kami yang membicarakan semua hal a.k.a terserah mau ngobrol apa saja.
Mereka pun tidak keberatan menggunakan nama itu. Kata “cincai” pun sedikit
mengalami pergeseran makna. Artinya, kalau kami ingin berbincang pada malam
hari, cukuplah kami mengucapkan cincai, yuk! atau malam ini pada bisa
cincai nggak?. So, cincai = ngobrol.
Begitulah. Selanjutnya,
aku akan membahas mengenai perkenalanku dengan anggota Ngobrol Cincai yang aku
sebut sebagai Sobat Cincai. Urutannya aku mulai dari yang pertama aku kenal
yak. Keempatnya aku temui di dunia maya.
Kak Rere
Salah satu hal
yang aku syukuri dari mempelajari bahasa Spanyol adalah aku bisa mengenal Kak
Rere. Kalau tidak salah sejak akhir tahun 2017 dari grup Whatsapp belajar
bahasa Spanyol. Kemudian kami juga sama-sama bergabung di Line Square komunitas
Dime Por Qué.
Kak Rere berasal
dari Banjar, Jawa Tengah. Karena itu, kami juga disatukan oleh penggunaan
bahasa Jawa yang sama, yaitu bahasa Ngapak. Dia lulusan Sastra Jepang dari
Unsoed.
Hubungan kami
cukup erat dengan obrolan-obrolan di chat. Dia juga salah satu orang yang cukup
mengikuti perjalanan hidupku. Aku ingat dia menyemangatiku ketika sedang struggle
mencari kerja dahulu.
Banyak hal yang
aku pelajari dari kisah-kisah Kak Rere selama Ngobrol Cincai berlangsung. Yang jelas
dia wanita yang hebat dan menginspirasi. Keceriaannya nular banget. Semoga kita
lekas bertemu secara langsung ya, Kak.
Kak Sanwani
Selain Kak Rere,
aku juga kenal Kak Sanwani dari grup WhatsApp. Seingatku, aku kenal dia pada
tahun 2018. Dia asli Madura, Jawa Timur. Mahasiswa Al- Azhar Mesir. Seingatku
dia duluan yang memulai chat personal di WA. Ujung-ujungnya kami saling
bertukar sosial media dan saling menjadi follower.
Waktu itu,
komunikasi yang terjalin di antara kami tidak begitu erat. Dengan kata
lain, kami hanya sekadar saling save nomor saja. Jarang banget chat-chatan.
Itu pun bisa dihitung jari. Lagian
aku juga nggak tahu harus ngobrolin apa sama dia haha. Nomornya masih aktif
atau tidak pun tidak aku cari tahu lebih lanjut.
Pada Agustus 2022,
tiba-tiba saja Kak Sanwani DM aku buat nanya kelas bahasa Spanyol. Lalu, aku
menyimpan nomor barunya. Karena kelas yang aku janjikan itu tidak terlaksana
pada tahun itu, aku sempat meminta maaf dan akan menjadikannya sebagai
prioritas ketika Vol. 3 diadakan pada Januari 2023, termasuk memberinya akses
untuk mengikuti dua program sekaligus.
Kak Sanwani
adalah orang yang paling tidak aku sangka bakal bergabung di obrolan after
class itu. Dipikiranku, dia orangnya sedikit tertutup, strict, dan
sangat menjaga interaksinya dengan perempuan. Pun, saat aku add di grup
Ngobrol Cincai aku tidak yakin dia bakal gabung. Ternyata dugaanku salah haha. Begitulah,
terkadang kita suka terjebak oleh prasangka.
Selama sesi
cincai itu aku semakin mengenal Kak Sani (nama panggilan yang aku tahu saat
pertama kali kenal. Jujur, agak susah mengucapkan nama Sanwani haha). Aku jadi
tahu bagaimana lika-liku perjalanan hidupnya yang tidak bisa dibilang mudah.
FYI, dia adalah
pencetak rekor bisa chat-an sama aku selama sebulan lebih tanpa jeda haha. Itu terjadi
pas bulan puasa lalu. Kami sempat mengobrol banyak sekali hal yang tidak ada
habis-habisnya. Pokoknya seru sih wkwk.
Rusdi
Di antara kami
berlima, Rusdi adalah yang paling muda. Antara kelahiran 2003 atau 2004. Hmm,
aku lupa persisnya. Dia orang
Batak yang saat ini menjadi mahasiswa Sastra Prancis di UNNES. Perjumpaanku dengan Rusdi juga dari grup
WA. Bedanya, aku kenal dia dari grup Bahasa Prancis.
Hubungan pertemanan
kami waktu itu tidak begitu dekat. Cuma saling save nomor dan kenal sekadarnya
saja. Aku pun lupa pada peristiwa apa sampai-sampai aku menyimpan nomornya
wkwk. Yang jelas aku sempat belajar bahasa Prancis bareng secara online yang
diadakan oleh orang Riau. Dia masih SMA waktu itu.
Dia sempat
bertanya-tanya tentang bahasa Prancis padaku. Dia juga mengabariku akan
mendaftar SNMPTN dan mengambil jurusan Sastra Prancis di UNNES. Aku sangat
terharu ketika dia diterima di jurusan tersebut. Aku jadi teringat mimpiku pas
SMA yang ingin kuliah di jurusan Sastra Prancis, di UNNES pula.
Kedekatanku dengan
Rusdi semakin melekat saat dia mengajukan diri ingin menjadi tutor di program
Frencheese. Dia membawakan program ini dengan sangat baik. Dia juga sudah
kuanggap seperti adikku sendiri.
Selama Ngobrol
Cincai berlangsung aku jadi semakin mengenal Rusdi dan bagaimana perjuangannya.
Aku yakin dia akan menjadi orang hebat di masa depan. Semangat terus!!!
Kak Martin
Kak Martin adalah orang terkahir yang aku kenal di antara
mereka berempat. Dia adalah peserta program Españolito sejak Vol. 1 (2022). Aku
ingat sekali Kak Martin begitu antusias mengikuti program ini. Dia bahkan
menghubungiku beberapa kali untuk memastikan dia menjadi bagian di dalamnya. Aku
tidak menyangka bisa berteman baik dengannya.
Banyak kisah hidup Kak Martin yang turut meyakinkanku bahwa
dia orang yang hebat dan kuat. Perjalan hidup yang dialaminya tidak mudah. Dia mengajarkanku
tentang bertahan di tengah kesulitan. Kak Martin juga wawasannya luas banget. Aku
banyak belajar darinya.
Sekian untuk perkenalan para sobat cincaiku. Semoga obrolan dan persahabatan kita terus berlanjut dan kita bisa bertemu secara langsung, ygy.
0 Komentar