Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Keadilan Sosial bagi Orang yang Tidak Suka Pedas

 

tidak suka pedas
(www.pexels.com)

Sebelum menulis tulisan dengan judul seperti di atas, saya sempat tertarik untuk mengangkat topik tentang "keuntungan orang yang tidak suka makan pedas", kemudian saya memasukkannya ke mesin pencari Google dengan tujuan untuk mencari referensi.

Hasilnya, sebaliknya, saya malah mendapatkan tampilan berbagai judul artikel yang rata-rata membahas tentang manfaat makanan pedas atau manfaat menjadi orang yang suka pedas.

Ada satu artikel yang dari judulnya saya kira akan berpihak pada orang yang tidak suka pedas. Ternyata, tidak juga. Ketika saya membaca artikel tersebut isinya tidak sesuai dengan yang saya harapkan, malah berpihak pada orang yang suka pedas.

Oleh karena itu, saya mengganti topik tulisan ini dengan pembahasan tentang "ketidakadilan" yang saya rasakan sebagai orang yang tidak suka pedas, terutama karena saya orang Indonesia dan tinggal di negeri ini.

Kisah Tidak Suka Pedas dan Betapa Merepotkannya

Fakta unik ini saya ketahui setelah agak besar, yaitu saya adalah keturunan ketiga dari orang yang tidak suka pedas. Silsilah itu merujuk kepada bapak dan nenek (ibu dari bapak) saya yang sama-sama tidak suka pedas. Selain kami bertiga, keluarga saya semuanya pecinta makanan pedas, terutama mama dan adik saya.

Sejak kecil, saya memang tidak suka makanan pedas dan selalu menghindarinya. Ketidaksukaan saya tersebut terkenal sampai ke keluarga besar, bahkan tetangga hingga penjual makanan langganan saya.

Saya sering kena ledekan mereka, yakni saya tidak akan diberi jatah makanan saat makan bersama. Sebab, makanan yang tersedia rasanya pedas. Saya sering merasa sebal karena hal tersebut.

Di sisi lain, mama saya adalah orang yang paling direpotkan karena saya tidak suka pedas. Ia kerap memisahkan masakan menjadi dua bagian untuk makanan anaknya. 3/4 porsi rasanya pedas, 1/4-nya adalah kebalikannya. Omong-omong, bapak saya kerja di luar kota, jadi saya sendirian yang berada di kubu orang-yang-tidak-suka-pedas di rumah.

Mama juga kerap memasakkanku makanan yang berbeda kalau tidak ingin membagi masakannya menjadi dua. Atau, kalau lagi males banget, ia menyuruh saya membeli lauk saja di warung makan.

Kenyataannya, yang direpotkan bukan mama saya saja, tetapi juga kalau ada acara makan-makan yang melibatkan saya. Opsinya mirip seperti di atas. Entah memasak menjadi dua bagian atau membuat menu yang berbeda yang tidak mengandung unsur rasa pedas.

Itu pun kalau saya ingat memberi tahu mereka terlebih dahulu. Kalau lupa, opsinya saya ikut makan makanan pedas tersebut dengan sangat terpaksa dan porsi makan yang sedikit sekali untuk formalitas belaka. Atau, mengeluarkan uang lebih buat beli makanan di luar.

Mencoba Bersahabat dengan Rasa Pedas

Orang-orang mengatakan kalau doyan pedas itu bisa dilatih, hanya perlu pembiasaan. Tidak juga. Saya lebih baik tidak makan sama sekali daripada harus memaksakan diri makan pedas. Sebab, akibatnya akan begini.

Bertahun-tahun hidup, saya baru berani mencocol sambal pas kelas 2 SMA, tepatnya pada 3 April 2016, ketika diajak makan-makan untuk merayakan ulang tahun kakak saya. Saya melakukannya karena mendapatkan tekanan dari mama yang sengaja memesan menu Ayam Bakar Sambal Indel. Walaupun berani memakannya, rasanya masih tidak cocok dengan lidah saya.

Setelah itu, saya pernah mencoba lagi makan pedas dan berusaha bersahabat dengannya, tetapi lebih sering berujung teriak-teriak dan yang paling parah harus menderita dengan menghabiskan waktu lebih lama di WC.

Parahnya, orang-orang yang mencicipi makanan saya malah bilang, ”Segini kok pedas? Menurutku, biasa aja malah.” Dari situ saya tahu kalau standar dan toleransi setiap orang terhadap rasa pedas itu berbeda-beda.

Tidak Suka Pedas dan Citra Sebagai Perempuan

FYI, sebagai perempuan, saya mendapatkan tekanan yang cukup besar karena tidak suka pedas dan merasa sangat terganggu karena itu. Berikut adalah tiga tanggapan teratas.

“Kok bisa sih perempuan nggak suka pedes.”

“Aneh banget perempuan nggak doyan pedes.”

“Perempuan nggak doyan pedes? Nanti masakin suaminya gimana?”

Saya sangat tidak nyaman karena ketidaksukaan saya terhadap makanan pedas sering dikaitkan dengan posisi saya sebagai perempuan, bahwa idealnya perempuan itu doyan pedas. Apalagi yang berkomentar begitu seringnya laki-laki dan ibu-ibu. Kalau begitu, apakah hidup ini masih bisa dikatakan adil dan setara?

Itulah sekelumit cerita saya tentang “ketidakadilan” yang saya rasakan sebagai penyuka makanan tidak pedas. Apakah ada yang pernah mengalami pengalaman serupa?

Posting Komentar

0 Komentar