![]() |
| (www.pexels.com) |
Sebelum
menulis tulisan dengan judul seperti di atas, saya sempat tertarik untuk
mengangkat topik tentang "keuntungan orang yang tidak suka makan
pedas", kemudian saya memasukkannya ke mesin pencari Google dengan tujuan
untuk mencari referensi.
Hasilnya,
sebaliknya, saya malah mendapatkan tampilan berbagai judul artikel yang
rata-rata membahas tentang manfaat makanan pedas atau manfaat menjadi orang
yang suka pedas.
Ada
satu artikel yang dari judulnya saya kira akan berpihak pada orang yang tidak
suka pedas. Ternyata, tidak juga. Ketika saya membaca artikel tersebut isinya
tidak sesuai dengan yang saya harapkan, malah berpihak pada orang yang suka
pedas.
Oleh
karena itu, saya mengganti topik tulisan ini dengan pembahasan tentang
"ketidakadilan" yang saya rasakan sebagai orang yang tidak suka
pedas, terutama karena saya orang Indonesia dan tinggal di negeri ini.
Kisah Tidak Suka Pedas dan Betapa Merepotkannya
Fakta unik ini saya ketahui setelah agak besar,
yaitu saya adalah keturunan ketiga dari orang yang tidak suka pedas. Silsilah
itu merujuk kepada bapak dan nenek (ibu dari bapak) saya yang sama-sama tidak
suka pedas. Selain kami bertiga, keluarga saya semuanya pecinta makanan pedas, terutama
mama dan adik saya.
Sejak kecil, saya memang tidak suka makanan pedas dan
selalu menghindarinya. Ketidaksukaan saya tersebut terkenal sampai ke keluarga
besar, bahkan tetangga hingga penjual makanan langganan saya.
Saya sering kena ledekan mereka, yakni saya tidak akan
diberi jatah makanan saat makan bersama. Sebab, makanan yang tersedia rasanya
pedas. Saya sering merasa sebal karena hal tersebut.
Di sisi lain, mama saya adalah orang yang paling
direpotkan karena saya tidak suka pedas. Ia kerap memisahkan masakan menjadi
dua bagian untuk makanan anaknya. 3/4 porsi rasanya pedas, 1/4-nya adalah
kebalikannya. Omong-omong, bapak saya kerja di luar kota, jadi saya sendirian
yang berada di kubu orang-yang-tidak-suka-pedas di rumah.
Mama juga kerap memasakkanku makanan yang berbeda kalau
tidak ingin membagi masakannya menjadi dua. Atau, kalau lagi males banget, ia
menyuruh saya membeli lauk saja di warung makan.
Kenyataannya, yang direpotkan bukan mama saya saja,
tetapi juga kalau ada acara makan-makan yang melibatkan saya. Opsinya mirip
seperti di atas. Entah memasak menjadi dua bagian atau membuat menu yang
berbeda yang tidak mengandung unsur rasa pedas.
Itu pun kalau saya ingat memberi tahu mereka terlebih
dahulu. Kalau lupa, opsinya saya ikut makan makanan pedas tersebut dengan
sangat terpaksa dan porsi makan yang sedikit sekali untuk formalitas belaka.
Atau, mengeluarkan uang lebih buat beli makanan di luar.
Mencoba Bersahabat dengan Rasa Pedas
Orang-orang mengatakan kalau doyan pedas itu bisa
dilatih, hanya perlu pembiasaan. Tidak juga. Saya lebih baik tidak makan sama
sekali daripada harus memaksakan diri makan pedas. Sebab, akibatnya akan
begini.
Bertahun-tahun hidup, saya baru berani mencocol sambal
pas kelas 2 SMA, tepatnya pada 3 April 2016, ketika diajak makan-makan untuk
merayakan ulang tahun kakak saya. Saya melakukannya karena mendapatkan tekanan
dari mama yang sengaja memesan menu Ayam Bakar Sambal Indel. Walaupun
berani memakannya, rasanya masih tidak cocok dengan lidah saya.
Setelah itu, saya pernah mencoba lagi makan pedas dan
berusaha bersahabat dengannya, tetapi lebih sering berujung teriak-teriak dan
yang paling parah harus menderita dengan menghabiskan waktu lebih lama di WC.
Parahnya, orang-orang yang mencicipi makanan saya malah
bilang, ”Segini kok pedas? Menurutku, biasa aja malah.” Dari situ
saya tahu kalau standar dan toleransi setiap orang terhadap rasa pedas itu berbeda-beda.
Tidak Suka Pedas dan Citra Sebagai Perempuan
FYI, sebagai perempuan, saya mendapatkan tekanan yang
cukup besar karena tidak suka pedas dan merasa sangat terganggu karena itu.
Berikut adalah tiga tanggapan teratas.
“Kok bisa sih perempuan nggak suka pedes.”
“Aneh
banget perempuan nggak doyan pedes.”
“Perempuan
nggak doyan pedes? Nanti masakin suaminya gimana?”
Saya
sangat tidak nyaman karena ketidaksukaan saya terhadap makanan pedas sering
dikaitkan dengan posisi saya sebagai perempuan, bahwa idealnya perempuan itu
doyan pedas. Apalagi yang berkomentar begitu seringnya laki-laki dan ibu-ibu. Kalau
begitu, apakah hidup ini masih bisa dikatakan adil dan setara?
Itulah sekelumit cerita saya tentang “ketidakadilan” yang saya rasakan sebagai penyuka makanan tidak pedas. Apakah ada yang pernah mengalami pengalaman serupa?

0 Komentar