Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Berdamai dengan Namaku Sendiri

 



Tadi sore aku sempat mengobrol dengan sepupuku perihal temannya yang baru saja memiliki anak. Obrolan berlanjut hingga membahas tentang nama.

Ngomong-ngomong tentang nama, aku memiliki cerita tersendiri terkait namaku. Bisa dibilang ini adalah proses pergulatan yang ada di dalam diriku. Proses untuk menerima dan berdamai dengan namaku tidaklah sebentar. Memerlukan waktu yang lama, bahkan sejak aku masih kecil.

Dulu, aku berpikir namaku tidak bagus. Tidak menggunakan bahasa Arab, sehingga tidak islami. Berbeda dengan mayoritas teman-temanku yang menggunakan bahasa dari negeri gurun pasir itu.

Bagaimana dengan responku kini? Hmm… menurutku namaku malahan sangat unik. Ia perpaduan antara dua agama. Bukan Islam, melainkan antara agama Hindu dan Kristen. Lah, aku sendiri beragama Islam. Ini semacam himbauan bagiku untuk menjadi orang yang terbuka dan menghargai keberagaman agama.

Nah, kalau kamu penasaran, berikut pergulatan dan kejadian yang aku alami gegara bernama DEVA YOHANA.

Mencari Nama yang Sama

Ada kebiasaan yang menurutku unik dan langka tatkala masih duduk di bangku sekolah, dari SD-SMA, yaitu setiap mengecek daftar nama di absensi, aku selalu bertanya-tanya, ada yang namanya Deva juga nggak ya? Ini bukan hanya di kelasku saja, kumelakukan ini juga tatkala iseng-iseng masuk ke kelas lain, bahkan ketika berkenalan dengan orang lain.

Itu adalah pertanyaan yang wajar. Mengingat kamu akan menemukan lebih dari satu orang yang menggunakan nama Fitri. Maybe ada 10.000 orang yang menggunakan nama Nia. Dan, nama Rizki bukanlah nama yang asing.

Jawaban yang kuterima adalah TIDAK ADA. Yang sering kutemukan adalah orang yang bernama Dewi, Diva, Devi. Nama Deva nihil. Lah, giliran ada nama yang sama di tv malah munculnya cowok. Tahu Deva Mahendra kan?

Barulah pas kuliah aku menemukan beberapa perempuan yang sama-sama bernama Deva. Meskipun sangat jarang, aku merasa bangga karena ada juga cewek yang namanya Deva hihi.

Siapa yang Memberi Namaku?

Hey, aku juga penasaran siapa sih yang ngasih nama Deva Yohana buatku? Dan, jawabannya begitu membingungkan. Tidak pasti. Penuh keraguan.

Ketika menanyakannya ke mama, beliau bilang nama Deva berasal darinya dan Yohana dari kakekku. Aslinya Yuhana bukan Yohana, katanya.

Kenapa harus nama Deva? Ketika tanya begitu, jawaban mama adalah karena aku anak kedua. Bukankah dua itu dwi? Ah, mungkinkah terjadi pergeseran semacam ini è Dwi, Dwa, Dewa, Deva. Menarik.

Nah, yang membuatku heran, ada seorang yang masih menjadi kerabatku mengakui kalau dirinya lah memberikan nama untukku. Deva Yohana berasal darinya.

Hmmm… jujurly, pas masih kecil kepikiran buat ganti nama, tapi prosesnya bakal ribet banget karena akan menyangkut dokumen-dokumen yang harus ikut diganti huahaha…

Deva Berasal dari Bahasa Sansekerta

Pertanyaan klise terkait nama adalah “apa arti namamu?” haduuuuuh… namaku bukan dari bahasa Arab. Aku pun perlu bantuan Google untuk mencari tahu. Yang kudapatkan dari sana adalah Deva berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya Dewa.

Ini dipertegas ketika pelajaran Sejarah. Pak Sam, namanya, melihat daftar nama kemudian berkata, “di kelas kalian ada dua orang yang pakai nama dari bahasa Sansekerta. Hayo, coba tebak. Siapa dia?” Kami semua bengong.

Melihat kami yang diem-diem bae, Pak Sam pun langsung bilang kalau namakulah yang berasal dari bahasa Sansekerta. Satunya lagi nama Dewi. Pas beliau bilang arti namaku Dewa aku langsung kecewa. Yah, bapak. Ngapa harus dibongkar segala sih? Protesku dalam hati yang hanya bisa didengar oleh diriku sendiri.

Nah, untuk nama Yohana, aku sendiri belum tahu berasal dari bahasa mana. Tidak tertarik buat nyari juga. Yang jelas kalau artinya, berdasarkan pencarian Mbah Google, adalah yang diberkati Tuhan. Lengkap sudah. Arti nama lengkapku adalah Dewa yang diberkati Tuhan.

Kenalan Sama Orang India

Berhubung berasal dari bahasa Sansekerta, maka orang-orang India tidaklah asing dengan namaku ini. Yang menurut  mereka asing adalah “kok, bisa-bisanya Deva cewek? Kalo di India ini nama cowok!”

Wahaha… aku beberapa kali kenalan kan sama orang India lewat online. 99,99% dari mereka nggak percaya aku cewek! Mereka butuh bukti berupa foto atau voice note yang membuktikan aku ini perempuan. Bodohnya, aku sering menuruti mereka haha.

Orang Indonesia pun beberapa kali nggak percaya aku cewek kalau kenalan di sosial media. Ada yang bilang namaku abstrak. Lebih condong ke nama cowok. Itu sebabnya, orang yang nggak kenal main panggil mas saja. Wakakak

Wait, ada pertanyaan penting. Apakah karena namaku yang berasal dari India membuatku menjadi orang yang fanatik dengan hal-hal yang berbau negeri Vrindavan tersebut, terutama artis dan filmnya?

Dikira Muallaf Sama Dosen

Nah, ini adalah sesuatu yang paling bikin nggak nyaman. Tak jarang guru atau dosen ketika mengabsen sekalian tanya arti namamu itu apa? Hih, masa iya aku mau jawab “Dewa yang diberkati Tuhan”. Lebih baik diem saja deh daripada diketawain atau malah ditanya yang macem-macem wkwk.

Kembali ke sub judul. Jadi, ada kejadian yang menarik. Peristiwanya aku alami ketika menginjak semester 1 di bangku kuliah. Waktu itu kelas kami diajar oleh seorang habib. Pas giliranku diabsen terjadilah percakapan berikut:

 “apakah kamu seorang mualaf?”

“Tidak, Pak,”

“Tapi, nama kamu pakai Yohana.”

“hehe, iya, pak. Tapi saya muslimah dari lahir kok”

Percakapan selesai.

Hmmm.. aku jadi inget pas masih sekolah sering diejek gegara namaku kayak non muslim, apalagi ada yang sampai memaki-maki. Hih, asem emang.

Sebagai penutup, aku cuma mau bilang, saat ini aku sudah bisa berdamai dengan namaku sendiri. Aku menerimanya apa adanya. Aku tidak mengeluh lagi karena jarang banget orang yang bernama Deva. Nama Deva kebanyakan digunakan oleh laki-laki. Dan, jika ada yang mengiraku non muslim, aku sudah tidak peduli lagi.

Menerima namaku adalah bagian dariku menerima diri sendiri. Ini menimbulkan ketenangan yang kuar biasa. Hati tenang dan damai. Sekian!

Posting Komentar

0 Komentar