Tadi sore aku
sempat mengobrol dengan sepupuku perihal temannya yang baru saja memiliki anak.
Obrolan berlanjut hingga membahas tentang nama.
Ngomong-ngomong
tentang nama, aku memiliki cerita tersendiri terkait namaku. Bisa dibilang ini
adalah proses pergulatan yang ada di dalam diriku. Proses untuk menerima dan
berdamai dengan namaku tidaklah sebentar. Memerlukan waktu yang lama, bahkan
sejak aku masih kecil.
Dulu, aku
berpikir namaku tidak bagus. Tidak menggunakan bahasa Arab, sehingga tidak
islami. Berbeda dengan mayoritas teman-temanku yang menggunakan bahasa dari
negeri gurun pasir itu.
Bagaimana dengan
responku kini? Hmm… menurutku namaku malahan sangat unik. Ia perpaduan antara
dua agama. Bukan Islam, melainkan antara agama Hindu dan Kristen. Lah, aku
sendiri beragama Islam. Ini semacam himbauan bagiku untuk menjadi orang yang
terbuka dan menghargai keberagaman agama.
Nah, kalau kamu
penasaran, berikut pergulatan dan kejadian yang aku alami gegara bernama DEVA
YOHANA.
Mencari Nama yang Sama
Ada kebiasaan
yang menurutku unik dan langka tatkala masih duduk di bangku sekolah, dari
SD-SMA, yaitu setiap mengecek daftar nama di absensi, aku selalu
bertanya-tanya, ada yang namanya Deva juga nggak ya? Ini bukan hanya di kelasku
saja, kumelakukan ini juga tatkala iseng-iseng masuk ke kelas lain, bahkan
ketika berkenalan dengan orang lain.
Itu adalah
pertanyaan yang wajar. Mengingat kamu akan menemukan lebih dari satu orang yang
menggunakan nama Fitri. Maybe ada 10.000 orang yang menggunakan nama Nia. Dan,
nama Rizki bukanlah nama yang asing.
Jawaban yang
kuterima adalah TIDAK ADA. Yang sering kutemukan adalah orang yang bernama
Dewi, Diva, Devi. Nama Deva nihil. Lah, giliran ada nama yang sama di tv malah
munculnya cowok. Tahu Deva Mahendra kan?
Barulah pas
kuliah aku menemukan beberapa perempuan yang sama-sama bernama Deva. Meskipun
sangat jarang, aku merasa bangga karena ada juga cewek yang namanya Deva hihi.
Siapa yang Memberi Namaku?
Hey, aku juga
penasaran siapa sih yang ngasih nama Deva Yohana buatku? Dan, jawabannya begitu
membingungkan. Tidak pasti. Penuh keraguan.
Ketika
menanyakannya ke mama, beliau bilang nama Deva berasal darinya dan Yohana dari
kakekku. Aslinya Yuhana bukan Yohana, katanya.
Kenapa harus nama
Deva? Ketika tanya begitu, jawaban mama adalah karena aku anak kedua. Bukankah
dua itu dwi? Ah, mungkinkah terjadi pergeseran semacam ini è Dwi, Dwa, Dewa, Deva. Menarik.
Nah, yang membuatku
heran, ada seorang yang masih menjadi kerabatku mengakui kalau dirinya lah
memberikan nama untukku. Deva Yohana berasal darinya.
Hmmm… jujurly,
pas masih kecil kepikiran buat ganti nama, tapi prosesnya bakal ribet banget
karena akan menyangkut dokumen-dokumen yang harus ikut diganti huahaha…
Deva Berasal dari Bahasa Sansekerta
Pertanyaan klise
terkait nama adalah “apa arti namamu?” haduuuuuh… namaku bukan dari bahasa
Arab. Aku pun perlu bantuan Google untuk mencari tahu. Yang kudapatkan dari
sana adalah Deva berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya Dewa.
Ini dipertegas
ketika pelajaran Sejarah. Pak Sam, namanya, melihat daftar nama kemudian
berkata, “di kelas kalian ada dua orang yang pakai nama dari bahasa Sansekerta.
Hayo, coba tebak. Siapa dia?” Kami semua bengong.
Melihat kami yang
diem-diem bae, Pak Sam pun langsung bilang kalau namakulah yang berasal dari
bahasa Sansekerta. Satunya lagi nama Dewi. Pas beliau bilang arti namaku Dewa
aku langsung kecewa. Yah, bapak. Ngapa harus dibongkar segala sih?
Protesku dalam hati yang hanya bisa didengar oleh diriku sendiri.
Nah, untuk nama
Yohana, aku sendiri belum tahu berasal dari bahasa mana. Tidak tertarik buat
nyari juga. Yang jelas kalau artinya, berdasarkan pencarian Mbah Google, adalah
yang diberkati Tuhan. Lengkap sudah. Arti nama lengkapku adalah Dewa yang
diberkati Tuhan.
Kenalan Sama Orang India
Berhubung berasal
dari bahasa Sansekerta, maka orang-orang India tidaklah asing dengan namaku
ini. Yang menurut mereka asing adalah
“kok, bisa-bisanya Deva cewek? Kalo di India ini nama cowok!”
Wahaha… aku
beberapa kali kenalan kan sama orang India lewat online. 99,99% dari mereka
nggak percaya aku cewek! Mereka butuh bukti berupa foto atau voice note yang
membuktikan aku ini perempuan. Bodohnya, aku sering menuruti mereka haha.
Orang Indonesia
pun beberapa kali nggak percaya aku cewek kalau kenalan di sosial media. Ada
yang bilang namaku abstrak. Lebih condong ke nama cowok. Itu sebabnya, orang
yang nggak kenal main panggil mas saja. Wakakak
Wait, ada pertanyaan penting. Apakah karena namaku yang
berasal dari India membuatku menjadi orang yang fanatik dengan hal-hal yang
berbau negeri Vrindavan tersebut, terutama artis dan filmnya?
Dikira Muallaf Sama Dosen
Nah, ini adalah sesuatu yang paling bikin nggak nyaman. Tak
jarang guru atau dosen ketika mengabsen sekalian tanya arti namamu itu apa?
Hih, masa iya aku mau jawab “Dewa yang diberkati Tuhan”. Lebih baik diem saja
deh daripada diketawain atau malah ditanya yang macem-macem wkwk.
Kembali ke sub judul. Jadi, ada kejadian yang menarik.
Peristiwanya aku alami ketika menginjak semester 1 di bangku kuliah. Waktu itu
kelas kami diajar oleh seorang habib. Pas giliranku diabsen terjadilah
percakapan berikut:
“apakah kamu seorang
mualaf?”
“Tidak, Pak,”
“Tapi, nama kamu pakai Yohana.”
“hehe, iya, pak. Tapi saya muslimah dari lahir kok”
Percakapan selesai.
Hmmm.. aku jadi inget pas masih sekolah sering diejek gegara
namaku kayak non muslim, apalagi ada yang sampai memaki-maki. Hih, asem emang.
Sebagai penutup, aku cuma mau bilang, saat ini aku sudah
bisa berdamai dengan namaku sendiri. Aku menerimanya apa adanya. Aku tidak
mengeluh lagi karena jarang banget orang yang bernama Deva. Nama Deva
kebanyakan digunakan oleh laki-laki. Dan, jika ada yang mengiraku non muslim,
aku sudah tidak peduli lagi.
Menerima namaku adalah bagian dariku menerima diri sendiri. Ini menimbulkan ketenangan yang kuar biasa. Hati tenang dan damai. Sekian!
0 Komentar