![]() |
| Sumber: Pexels.com/Andrea Piacquadio |
12 Januari 2024, tadinya aku ingin merayakan hari ini sebagai hari terindah di dunia. Sebab, setelah berproses sekian lama, akhirnya aku akan mendapatkan dosen pembimbing. Yuhuu…. Sebelum itu, sepertinya aku perlu flashback dulu ke peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Pertengahan
Desember, aku bersama sahabatku memberanikan diri untuk mengajukan proposal
skripsi. Tadinya kami mengira bakal langsung di ACC, tapi ternyata masih perlu
melakukan revisi. Lumayan banyak sih… Kebanyakan memang di masalah teknis,
seperti judul, cara penulisan angka, dll.
Nggak
berlama-lama, selang beberapa hari kemudian, aku langsung ke kampus lagi setelah
mengerjakan revisi. Kali ini aku yakin bakal dapat tanda tangan dan mendapatkan
dosen pemimping. Oh, tidak seperti itu, Ferguso. Aku lupa memberikan nomor
halaman haha. Mau nggak mau harus revisi lagi.
Tak mau menghadapi
revisi untuk yang ketiga kalinya, aku ke kampus lagi tanpa menemui kajur. Kebetulan
waktu itu Pak Kajurnya juga lagi sibuk sih, jadi nggak menerima bertemu dengan
mahasiswa. Aku menaruhnya di keranjang yang sudah di siapkan di ruang jurusan.
Memasuki bulan Januari,
aku belum mendapatkan kabar apa pun terkait proposalku. Aku mengira akan
dihubungi oleh pihak jurusan, maka dari itu aku santai-santai saja. Barulah
ketika memasuki tanggal 8/9 Januari aku mulai bertanya-tanya kepada temanku
yang proposalnya kulihat ada di keranjang. Ternyata dia juga belum mendapatkan
kabar apa pun. Beberapa hari kemudian dia mengabariku proposalnya telah
ditandatangani. Mengetahui hal tersebut aku langsung merencanakan jadwal untuk
pergi ke kampus. Aku memilih hari Jumat tanggal 12 Januari 2024.
***
12 Januari 2024
Pagi-pagi sekali
aku bergegas menyelesaikan tugas mencuci baju dan mencuci piring. Setelah itu,
aku bersiap-siap untuk mandi. Tepat jam 8 pagi aku berangkat ke Ciputat. Pagi itu
aku menunggu angkot lumayan lama. Lalu, aku menyambungnya dengan Tije jurusan Pulogadung – Monas dan transit
di halte Pasar Senen.
Setibanya di
halte Pasar Senen aku mempercepat langkah untuk berpindah ke Halte Senen
Central. Malang, bus yang harus kutumpangi malah baru saja jalan. Aku harus
menunggu selama beberapa saat. Kira-kira nggak ada 15 menit.
Perjalanan ke
Ciputat memakan waktu 2 jam lebih. Sesampainya di kampus aku langsung menuju
lantai 3, tempat di mana ruang kajur berada. Setelah benar-benar siap, aku
masuk ke ruangannya dan menyatakan maksud kedatanganku.
Pak Kajur menyuruhku
mengambil proposalku yang ada di meja sebelah. Aku sempat membuka lagi
proposalku yang terbungkus map biru. Oh, sial. Belum ditandatangani. Lalu,
aku menyerahkannya.
Terlihat raut
wajah yang susah dideskripsikan saat aku memandang Pak Kajur, seperti sedang
mengingat-ingat sesuatu. Semoga bukan pertanda buruk. Doaku dalam hati.
“Kamu ngumpulin
ini kapan?”
“Pas akhir
Desember, Pak.”
“Sepertinya judul
novel ini baru disidang kemarin deh. Soalnya saya yang sidang.”
“Iya kah, Pak?”
“Sebentar, ya. Saya
cek dulu.”
(Pak Kajur pindah
ke meja sebelah yang ada komputernya.)
“Benar. Novelnya sudah
dipakai sama Hana Tsurayya. Pendekatannya juga sama-sama sosiologi sastra.”
(Pak Kajur
kembali ke meja utama.)
“Yah, Pak.
Berarti saya harus ganti.”
“Iya.” (Sambil menulis keterangan di proposalku “Judul sudah
ada”
“Baik, Pak. Terima kasih.
Saya izin pamit dulu.”
DEEEGGGG.. KENYATAAN
PAHIT APA LAGI INI….
Aku melihat jam masih ada waktu buat sholat dhuha. Di mushola
aku sempat menangis dan merasa patah semangat karena menerima kenyataan pahit
ini.
Saat kumelihat HP,
ada pesan dari Nida. Dia sedang ada di perpustakaan. Aku menghapus air mataku,
cuci muka, dan pergi menghampiri sahabatku itu.
Jujur, aku sangat sulit menerima kenyataan harus mengerjakan skripsi dari awal lagi.
Note: catatan ini dibuat tanpa dibaca lagi dan tidak melalui proses editing. Harap maklum kalau kamu merasa tulisan ini berantakan haha.

0 Komentar