![]() |
| (Pexels/Sergey Makashin) |
(Lanjutan dari kisah Kecewa pada Bapak)
Minggu
(21/04). Ucapan bapak yang semena-mena menentukan hari pernikahan itu tidak
hanya berdampak pada jam tidurku yang kacau, yang menyebabkanku tidak bisa
tidur semalaman, tetapi juga pada hari Mingguku yang berubah menjadi murung.
Seharian
itu aku pasang mode tidak mau diajak bicara pada orang tuaku, terutama bapak.
Sepulang dagang, bapak menyadari sikapku itu. Bahwa aku berbeda dari biasanya
yang senantiasa berpembawaan ceria, bahkan seringkali mengajaknya bercanda.
Seperti
biasa, siang hariku dihabiskan di depan kontrakan sambil menghadap ke layar
laptop ketika sayup-sayup aku mendengar obrolan mama dan bapak di dalam
kontrakan.
"Deva
kenapa? Dia lagi marah?"
"Nggak
tahu. Dari tadi emang diem aja"
Oh, please!
Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini, terutama emosi dan perasaanku.
**
Senin
(22/04), aku memutuskan akan mengakhiri semua ini. Aku sudah bertekad sepulang
kerja nanti, aku akan mengungkapkan semuanya. Aku akan mengeluarkan
unek-unekku. Semuanya. Nggak ada lagi yang mau kusembunyikan. Demi kebaikan
jiwa, raga, dan batinku.
Aku masih
sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang diwarnai dengan pengalihan jalan
dan kemacetan. Aku pulang melebihi jam 7 malam.
Aku
mengatur nafasku supaya lebih teratur. Aku memutar pandanganku dari satu sudut
ke sudut lain. Aku membaca keadaan terlebih dahulu. Terlihat bapakku sedang
bermain HP dalam posisi miring ke kanan. Tak lama kemudian ia keluar entah mau
ke mana. Aku sudah siap.
Pertama-tama,
aku mengalihkan perhatian mama dari televisi supaya bisa ke arahku. Aku
mengatakan keresahan yang terjadi sejak kemarin. Bahwa aku tidak menerima dan
menyetujui pernyataan bapak yang dilontarkan pada Sabtu malam.
Tak lama
kemudian bapak masuk. Aku langsung menumpahkan segala unek-unekku selain yang
sudah aku katakan pada mama. Bahwa aku punya rencana hidupku yang tidak ingin
dicampuri oleh orang lain. Aku tidak suka diatur-atur seperti itu. Aku mematok
minimal usia 27 untuk membuka hati pada lelaki. Sebelum menginjak usia itu aku
tidak mau memberikan harapan pada siapa pun, termasuk Mas S.
Aku bilang jangan
terlalu berharap pada "percomblangan" ini. Biarkan aku bebas pada pilihanku. Aku yakin Mas
S orang yang baik, tetapi aku bukanlah orang yang tepat untuk diajak buru-buru
menikah. Aku tidak peduli pada Mas S yang sudah mapan, punya mobil, rumah, dan
pekerjaan yang stabil. Aku peduli pada diriku sendiri yang masih perlu dan
ingin mencapai beberapa hal. Aku ingin memperbaiki diriku sendiri. Aku ingin
membuka diri pada banyak hal.
Dan, yang paling penting, aku ingin bekerja untuk mama, bapak, dan memastikan Restu sudah berdaya. Itu saja. Keduanya mengerti dan sadar diri. Aku juga jujur kalau kepergianku ke Perpustakaan Jakarta pada hari Sabtu kemarin untuk bertemu Mas S dan membicarakan perihal ini. Mereka cukup terkejut. Lalu, perbincangan beralih ke hal lain. Sekian!
Note: catatan ini dibuat tanpa dibaca lagi dan tidak
melalui proses editing. Harap maklum kalau kamu merasa tulisan ini berantakan haha.

0 Komentar