Menjadi mahasiswa adalah anugerah tersendiri bagi diriku. Ini menjadi hadiah ulang tahun teristimewa sepanjang aku bernafas di dunia ini. Tak terhitung ucapan syukur aku panjatkan kepada Sang Ilahi.
Ketika awal masuk
kuliah dan kebetulan jurusan yang menerimaku adalah Bahasa dan Sastra Arab
ditambah aku berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan
yang sering muncul ketika berkenalan adalah, “kamu lulusan pesantren mana?”
semua orang terkejut ketika aku menjawab “aku lulusan SMA tidak pernah masuk
pesantren” sebagian dari mereka ada yang bilang aku hebat karena bisa masuk di
jurusan Bahasa dan Sastra Arab dan sebagian besar yang lainnya meragukan.
-
Kamu beneran masuk di jurusan Bahasa dan Sastra
Arab? Nggak salah jurusan nih? Kamu nyemplung ya di sini?
-
Emang kamu kuat masuk di jurusan Bahasa dan Sastra
Arab? Kamu kan nggak pernah mondok dan bukan lulusan MA? Pas di SMA dapetnya
bahasa Prancis pula.
-
Kamu itu nggak cocok di jurusan Bahasa dan Sastra
Arab. Kamu lebih cocok masuk di jurusan Sastra Inggris atau Sastra Prancis.
-
Kamu tahu nggak resiko kamu yang lulusan SMA masuk
jurusan Bahasa dan Sastra Arab? Harus kuat ngejar. Kamu udah tertinggal
jauuuuuh dari teman-teman kamu yang lulusan pesantren dan MA. Ibaratnya mereka
berjalan kamu harus berlari…
Itu adalah
sekelumit dari tanggapan teman-teman, orang-orang bahkan dosen karena aku masuk
di jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Jujur saja aku sempat merasa down dengan
ucapan-ucapan mereka. Seberat itukah tantangan yang dihadapi di jurusan ini?
Jawabannya emang berat bahkan pake bangett haha.. tapi justru disitulah letak
tantangannya, ya gak?
Pun kalo ada
orang yang tanya padaku, “siapakah orang yang paling beruntung di dunia?” salah
satu jawabanku adalah mereka yang pernah belajar di pesantren. Kenapa? Karena
mereka digembleng untuk mendalami ilmu agama Islam yang begitu luasnya dan
banyak lagi hal yang bisa dipelajari di sana. Mungkin banyak orang di luar sana
yang ingin mondok, tetapi tidak semua
orang beruntung bisa merasakan manisnya belajar di sana dan menjadi santri.
Begitu pula dengan diriku. Aku sangat iri pada
mereka.
Cerita ini
bermula ketika aku memasuki SMA. Aku ingin melanjutkan sekolahku ke pesantren.
Tapi ayahku meyuruhku untuk sekolah di SMA yang berada di kecamatan tempat aku
tinggal. Kenapa harus begitu bersedih? Kan aku tetap bisa belajar agama di
majlis ta’lim yang ada di desaku. Tepat pada awal masuk SMA aku juga
mendaftarkan diriku ke sana. Oh, ada satu lagi ide! Kenapa tidak tetap sekolah
di SMA terus sambil mondok di pondok pesantren yang jaraknya lumayan dekat
dengan sekolah? Ide yang bagus. Tapi aku tidak bisa merealisasikannya. Ada apa?
Entahlah, ketika SMA aku sering merasakan sakit kepala yang sangat dan satu lagi
yang akan kujelaskan nanti. Aku seolah dibuat tak berdaya olehnya. Sering,
ketika pulang sekolah yang kurasakan adalah sakit kepala dan aku harus langsung
berbaring untuk tidur dengan harapan kepada Allah setelah tidur sakit kepalaku
akan segera pergi. Iya benar, tidur yang lama membuat sakit kepalaku sembuh,
dengan izin Allah pastinya.
Pernah, ketika
datang hari kenaikan kelas X ke kelas XI kepalaku terasa sakit dengan sakit
yang tidak bisa kutahan. Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku ke tembok. Ah,
bukannya sembuh malah akan menambah rasa sakit dan bahkan luka. Ibuku
menyuruhku untuk meminum obat warung. Aku pun meminumnya. Malang, sakit
kepalaku juga tak kunjung reda. Sakit, rasanya sakit sekali. Aku tidak bisa
berangkat ke sekolah. Beberapa temanku menghubungiku menanyakan kenapa aku
tidak berangkat sekolah? Aku hanya menjawab, “aku sedang sakit.” Mamaku lah
yang berangkat ke sana sambil mengambil rapotku.
Setidaknya ada
berita yang menggembirakanku ketika aku sedang mengalami sakit ini. “kamu dapat
ranking 1, Deva. Teman-teman dan gurumu mencarimu dan menanyakan kenapa kamu
tidak berangkat. Terus mama bilang kamu lagi sakit. Dan, bagaimana dengan sakit
kepalamu?” kata mamaku. “Masih sakit, ma.” Jawabku singkat. Sakit kepala jenis
apa yang aku derita sungguh aku tidak tahu. Sekali lagi aku hanya merasakan
sakit di kepalaku. Aku mencoba tidur tapi tetap saja rasa sakit itu masih aku
rasakan.
Mamaku semakin
khawatir dengan kondisiku. Sore itu mama langsung membawaku ke klinik. Dengan
tubuh lunglai aku diboncengi mama menuju klinik yang tidak jauh dari rumahku.
Sesampainya di sana dokter memeriksaku dan menanyakan tentang sakit yang aku
derita. Entah vertigo atau migrain aku tidak tahu persisnya, aku tidak
memperhatikan penjelasan beliau dengan seksama. Aku masih mencoba menahan rasa
sakitku. Sakit, sakit sekali. Tidak lama kemudian dokter memberiku obat dan
kami langsung bergegas pulang.
Keesokan harinya
aku merasa sakitku sudah lebih mending dan sakit kepalaku tidak terasa terlalu
sakit lagi. Untung saja sudah memasuki liburan sekolah, jadi aku tidak perlu
izin tidak berangkat sekolah. Alhamdulillah…
Untuk hari-hari selanjutnya aku tidak lagi mengalami sakit
kepala yang begitu sangat seperti kemarin lagi. Tapi masih sering kumat
terutama setelah pulang sekolah. Masih sama seperti sebelumnya, aku memilih
tidur untuk meredakannya. Mamaku prihatin melihat kondisiku yang begini terus.
“aku juga merasakan hal yang sama, ma.” Kataku dalam hati.
Pada tanggal 27 Maret 2015 kita dikejutkan atas kematian
artis papan atas yang bernama Olga Syahputra. Beliau meninggal karena penyakit
meningitis yang dideritanya sejak 2013 silam. Seluruh acara berita dan
infotainmen ramai memberitakan tentang kematian Olga dan penyakit meningitis.
Apa itu meningitis? Apa penyebabnya? Bagaimana gejalanya? Mengapa seseorang
bisa terkena meningitis? Dari semua berita tentang meningitis yang aku
dapatkan, aku tercengang dengan gejalanya. Salah satu gejala orang yang
mengidap meningitis adalah sering merasakan sakit kepala! Berhari-hari lamanya
aku merasa ketakutan. Apakah aku juga mengidap meningitis? Atau baru gejalanya
saja? tentu itu semua sama sekali tidak aku harapkan! aku terus berdoa yang
terbaik untuk diriku dan kondisi kesehatanku.
BERSAMBUNG…

0 Komentar