Hot Posts

6/recent/ticker-posts

LIKA-LIKU BELAJAR BAHASA ARAB (TIDAK MASUK PESANTREN 1)

(PBAK 2019)


 Menjadi mahasiswa adalah anugerah tersendiri bagi diriku. Ini menjadi hadiah ulang tahun teristimewa sepanjang aku bernafas di dunia ini. Tak terhitung ucapan syukur aku panjatkan kepada Sang Ilahi.

Ketika awal masuk kuliah dan kebetulan jurusan yang menerimaku adalah Bahasa dan Sastra Arab ditambah aku berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul ketika berkenalan adalah, “kamu lulusan pesantren mana?” semua orang terkejut ketika aku menjawab “aku lulusan SMA tidak pernah masuk pesantren” sebagian dari mereka ada yang bilang aku hebat karena bisa masuk di jurusan Bahasa dan Sastra Arab dan sebagian besar yang lainnya meragukan.

-          Kamu beneran masuk di jurusan Bahasa dan Sastra Arab? Nggak salah jurusan nih? Kamu nyemplung ya di sini?

-          Emang kamu kuat masuk di jurusan Bahasa dan Sastra Arab? Kamu kan nggak pernah mondok dan bukan lulusan MA? Pas di SMA dapetnya bahasa Prancis pula.

-          Kamu itu nggak cocok di jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Kamu lebih cocok masuk di jurusan Sastra Inggris atau Sastra Prancis.

-          Kamu tahu nggak resiko kamu yang lulusan SMA masuk jurusan Bahasa dan Sastra Arab? Harus kuat ngejar. Kamu udah tertinggal jauuuuuh dari teman-teman kamu yang lulusan pesantren dan MA. Ibaratnya mereka berjalan kamu harus berlari…

Itu adalah sekelumit dari tanggapan teman-teman, orang-orang bahkan dosen karena aku masuk di jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Jujur saja aku sempat merasa down dengan ucapan-ucapan mereka. Seberat itukah tantangan yang dihadapi di jurusan ini? Jawabannya emang berat bahkan pake bangett haha.. tapi justru disitulah letak tantangannya, ya gak?

Pun kalo ada orang yang tanya padaku, “siapakah orang yang paling beruntung di dunia?” salah satu jawabanku adalah mereka yang pernah belajar di pesantren. Kenapa? Karena mereka digembleng untuk mendalami ilmu agama Islam yang begitu luasnya dan banyak lagi hal yang bisa dipelajari di sana. Mungkin banyak orang di luar sana yang  ingin mondok, tetapi tidak semua orang beruntung bisa merasakan manisnya belajar di sana dan menjadi santri. Begitu pula dengan diriku. Aku sangat iri pada  mereka.

Cerita ini bermula ketika aku memasuki SMA. Aku ingin melanjutkan sekolahku ke pesantren. Tapi ayahku meyuruhku untuk sekolah di SMA yang berada di kecamatan tempat aku tinggal. Kenapa harus begitu bersedih? Kan aku tetap bisa belajar agama di majlis ta’lim yang ada di desaku. Tepat pada awal masuk SMA aku juga mendaftarkan diriku ke sana. Oh, ada satu lagi ide! Kenapa tidak tetap sekolah di SMA terus sambil mondok di pondok pesantren yang jaraknya lumayan dekat dengan sekolah? Ide yang bagus. Tapi aku tidak bisa merealisasikannya. Ada apa? Entahlah, ketika SMA aku sering merasakan sakit kepala yang sangat dan satu lagi yang akan kujelaskan nanti. Aku seolah dibuat tak berdaya olehnya. Sering, ketika pulang sekolah yang kurasakan adalah sakit kepala dan aku harus langsung berbaring untuk tidur dengan harapan kepada Allah setelah tidur sakit kepalaku akan segera pergi. Iya benar, tidur yang lama membuat sakit kepalaku sembuh, dengan izin Allah pastinya.

Pernah, ketika datang hari kenaikan kelas X ke kelas XI kepalaku terasa sakit dengan sakit yang tidak bisa kutahan. Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku ke tembok. Ah, bukannya sembuh malah akan menambah rasa sakit dan bahkan luka. Ibuku menyuruhku untuk meminum obat warung. Aku pun meminumnya. Malang, sakit kepalaku juga tak kunjung reda. Sakit, rasanya sakit sekali. Aku tidak bisa berangkat ke sekolah. Beberapa temanku menghubungiku menanyakan kenapa aku tidak berangkat sekolah? Aku hanya menjawab, “aku sedang sakit.” Mamaku lah yang berangkat ke sana sambil mengambil rapotku.

Setidaknya ada berita yang menggembirakanku ketika aku sedang mengalami sakit ini. “kamu dapat ranking 1, Deva. Teman-teman dan gurumu mencarimu dan menanyakan kenapa kamu tidak berangkat. Terus mama bilang kamu lagi sakit. Dan, bagaimana dengan sakit kepalamu?” kata mamaku. “Masih sakit, ma.” Jawabku singkat. Sakit kepala jenis apa yang aku derita sungguh aku tidak tahu. Sekali lagi aku hanya merasakan sakit di kepalaku. Aku mencoba tidur tapi tetap saja rasa sakit itu masih aku rasakan.

Mamaku semakin khawatir dengan kondisiku. Sore itu mama langsung membawaku ke klinik. Dengan tubuh lunglai aku diboncengi mama menuju klinik yang tidak jauh dari rumahku. Sesampainya di sana dokter memeriksaku dan menanyakan tentang sakit yang aku derita. Entah vertigo atau migrain aku tidak tahu persisnya, aku tidak memperhatikan penjelasan beliau dengan seksama. Aku masih mencoba menahan rasa sakitku. Sakit, sakit sekali. Tidak lama kemudian dokter memberiku obat dan kami langsung bergegas pulang.

Keesokan harinya aku merasa sakitku sudah lebih mending dan sakit kepalaku tidak terasa terlalu sakit lagi. Untung saja sudah memasuki liburan sekolah, jadi aku tidak perlu izin tidak berangkat sekolah. Alhamdulillah…

Untuk hari-hari selanjutnya aku tidak lagi mengalami sakit kepala yang begitu sangat seperti kemarin lagi. Tapi masih sering kumat terutama setelah pulang sekolah. Masih sama seperti sebelumnya, aku memilih tidur untuk meredakannya. Mamaku prihatin melihat kondisiku yang begini terus. “aku juga merasakan hal yang sama, ma.” Kataku dalam hati.

Pada tanggal 27 Maret 2015 kita dikejutkan atas kematian artis papan atas yang bernama Olga Syahputra. Beliau meninggal karena penyakit meningitis yang dideritanya sejak 2013 silam. Seluruh acara berita dan infotainmen ramai memberitakan tentang kematian Olga dan penyakit meningitis. Apa itu meningitis? Apa penyebabnya? Bagaimana gejalanya? Mengapa seseorang bisa terkena meningitis? Dari semua berita tentang meningitis yang aku dapatkan, aku tercengang dengan gejalanya. Salah satu gejala orang yang mengidap meningitis adalah sering merasakan sakit kepala! Berhari-hari lamanya aku merasa ketakutan. Apakah aku juga mengidap meningitis? Atau baru gejalanya saja? tentu itu semua sama sekali tidak aku harapkan! aku terus berdoa yang terbaik untuk diriku dan kondisi kesehatanku.

 

BERSAMBUNG…


Posting Komentar

0 Komentar