![]() |
| Sumber: Pexels.com/Suzy Hazelwood |
(Yang kualami pada 22-25 Januari 2024)
Ketika memutuskan
untuk off IG, aku mengganti kegiatan membunuh waktu dengan scroll video
Short di YouTube sebagai pengganti Reels. Aku menyadari satu hal, setiap aku
melihat video-video Short tersebut, hampir selalu aku jumpai video tentang
perjalanan hidup orang-orang sukses India dengan backsound sebuah lagu. Mulanya
aku tidak begitu tertarik dengan lagu itu, meskipun terdengar enak juga.
Suatu hari aku
merasa sangat penasaran kenapa backsound-nya selalu pakai lagu itu terus. Aku bertanya-tanya
lagu ini judulnya apa sih? Aku melihat di bagian bawah video. Barulah aku tahu
kalau lagu tersebut berjudul Shaabaashiyaan dari film Mision Mangal. Jujur, aku
tidak tahu sama sekali tentang film ini, apalagi pernah menontonnya hehe.
Senin, 22 Januari
2024. Aku mendengarkan lagu itu. Aku sangat menikmati alunan musiknya. Enak juga.
Seperti biasa, aku penasaran dengan isi kolom komentar yang jumlahnya mencapai
10k. Dari situlah aku tahu kalau lagu ini bertema tentang perjuangan untuk
menggapai impian. Sebenarnya cukup tergambarkan juga sih dari videonya. Berhubung
aku nggak belajar bahasa Indonesia, aku tidak tahu keterkaitan antara video dan
isi lagunya.
Satu per satu aku
membaca isi kolom komentar. Aku menyimpulkan kalau banyak orang yang merasa
termotivasi dengan lagu ini. Penasaran, aku pun mencoba meng-google arti dari
lirik lagu Shaabhaashiyaan. Gils, dalam banget maknanya. Aku sampai menangkap
layar dan menyimpannya di words khusus. Tujuannya, biar bisa aku baca lagi. Meskipun
melihat di Google sepertinya cara yang lebih praktis.
Setelah mengetahui artinya, aku mendengarkan lagi lagunya. Kali
ini aku lebih menghayati daripada sebelumnya. Aku juga membaca lagi kolom komentar. Dan, ada satu komentar yang
sepertinya sangat relate dengan kondisi yang aku alami saat ini. Terlalu panjang
kalau dijelasin haha.
Intinya, setelah
itu, aku merasakan sensasi yang tidak biasa di tubuhku, terutama perasaanku. Kamu
pernah merasa gugup saat mau presentasi? Atau, pernah was-was saat tiba-tiba
harus melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai? Perasaan itulah yang aku
rasakan. Aku merasa was-was dan gelisah banget. Detak jantungku pun tidak
beraturan. Aku mencoba menentralkannya dengan tidur siang. Maybe aku semalam kekurangan tidur? Setelah bangun
ternyata sama saja.
Keesokan harinya
aku masih merasakan perasaan yang sama. Aku berusaha supaya keadaan ini tidak
kelihatan oleh orang di sekitarku. Aku masih tetap melakukan aktivitas menulis
karena aku sedang menjalani magang di GNFI. Rasanya menyelesaikan satu
artikel per hari saja beraaaaat banget. Kondisi ini diperparah setelah bayangan
deretan kegagalanku muncul. Iya, akhir-akhir ini aku menjalani hidup yang jauh
dari kata menyenangkan.
Perasaan itu terus berlanjut sampai keesokan harinya. Pada titik
inilah aku menyadari bahwa kemungkinan aku terkena anxiety, meskipun aku tidak
begitu yakin. Aku mencoba memohon kepada Yang Maha Kuasa bahwa aku sudah
menerima dengan ikhlas dan rida terhadap kesulitan-kesulitan yang sedang aku
hadapi. Aku memohon agar rasa
was-was ini bisa segera pergi dan aku dapat menjalani hari dengan lebih baik.
Hari Kamis tiba. Sejak
pagi aku masih merasakan perasaan ini bercokol di dalam dadaku. Ternyata belum
juga reda, padahal hari ini aku ada jadwal mengisi sesi belajar di program
Españolito di malam hari. Arrgh.. semoga saja tidak mengganggu aktivitasku yang
satu ini karena aku harus berinteraksi
dengan banyak orang.
Dugaanku salah. Aku
merasa sangat tidak nyaman saat sesi belajar. Tensi kemarahanku naik saat ada
seorang rekan belajar yang tidak paham
juga masalah cara baca, padahal sekarang sedang berlangsung materi lainnya. Aku
jadi terganggu fokusnya. Saat sesi itu berakhir aku merasa sangat lega. Akan tetapi,
pada saat itu, ada salah satu dari mereka yang notice aku sedang tidak baik-baik
saja dan mengiraku sedang sakit. “Oh tidak, aku sedang tidak sakit. Tapi memang
sedang merasa tidak baik-baik saja. Terima kasih sudah menyadarinya,” jawabku
saat itu.
Pada saat itu aku
sadar kalau kondisiku sudah mengganggu kenyamanan orang lain saat berinteraksi
denganku. Aku sempat meminta maaf di grup atas ketidakmaksimalanku dalam
menjelaskan materi. Bahwa aku sedang merasa anxiety selama empat hari
terakhir dan belum bisa mengatasinya. Aku meminta saran obat jika mereka
mengetahuinya. Ternyata aku tidak mendapatkan respon berarti. Ya sudah. Aku menyadari
kalau masalah kesehatan mental belum dianggap serius di Indonesia.
Salah satu
temanku di grup Kansa Rangers merasa prihatin. Ia bertanya padaku aku kena trigger
apa dan menyarankanku agar segera berkonsultasi ke profesional di salah satu
platform. Aku hanya membaca chat itu. Aku memikirkan kondisiku yang sedang
tidak memiliki uang sama sekali, malahan sedang terjebak hutang. Kemudian aku
teringat Kak Salbi. Dia sedang menempuh pendidikan master di jurusan psikologi
UI dan rekanku di Teruntuk Project. Dia memberiku ruang untuk bercerita dan berkonsultasi secara gratis jika
aku membutuhkannya. Oke, besok aku harus mengabari Kak Salbi tentang
kondisiku. Siapa tahu dia punya solusi?
Hari Jumat pun
tiba. Aku merasakan perasaanku damai sekali. Rasa was-was itu sudah
pergi. Aku merasa bersemangat lagi
untuk menjalani hari.
Oh iya, pas aku
baca chat dari Kak Rere tentang trigger, aku sempat berpikir keras
kenapa aku bisa seperti ini. Kemudian aku menelusurinya. Oh iya, aku teringat
kalau lagu Shaabhaashiyaan menjadi pemicunya. Hmm, ini untuk kedua kalinya aku
merasa mentally down gara-gara lagu, setelah sebelumnya Jiwa yang Bersedih juga
membuatku menangis menjadi-jadi selama dua hari.
Sekian!

0 Komentar