Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Kecewa pada Bapak

 

Deva Yohana
(Pexels/Josh Willink)

Semalam aku tidak bisa tidur karena terngiang-ngiang ucapan bapak yang menyuruhku untuk segera menikah. Bahkan, tanpa persetujuan dariku, ia sudah langsung menentukan bulannya. Bulan Haji tahun depan katanya. Pernyataannya itu didukung pula oleh ibuku. Apa-apaan ini?

Selain kecewa pada orang tua, terutama bapakku, aku juga kecewa pada diriku sendiri karena tidak bisa merespon ucapan mereka sesuai keinginanku. Aku cenderung diam saja dan merasa kalah. Aku tidak mengeluarkan sisi diriku yang suka memberontak.

Setelahnya, pernyataan itu langsung menjadi topik diskusi yang tak berkesudahan di dalam pikiranku, hingga membuatku susah sekali untuk tidur dengan nyenyak. Antara jam 02.00 dan 03.00 WIB aku baru bisa tidur. Itu pun setelah berpindah-pindah posisi dan tempat tidur.

Sebenarnya aku sudah curhat ke orang yang kupercaya tentang keresahan-keresahanku ini. Akan tetapi, dia juga tidak bisa menanggapinya. Meskipun begitu, aku tetap mengucapkan terima kasih karena dia telah mau membaca ceritaku lewat pesan WhatsApp.

**

Maaf, Kali Ini Aku Kecewa

Sebelum rencana percomblangan itu, aku sangat bangga pada bapakku karena dia adalah orang yang selalu membelaku saat ada orang lain, bahkan ibuku, membahas tentang pasangan. “Terserah dia saja. Lagi fokus belajar dulu,” ungkapnya.

Selain itu, aku ingat sekali saat pertama kali aku dinyatakan lulus masuk di UIN Jakarta jurusan Bahasa dan Sastra Arab. “Setelah ini kamu bisa lanjut ke Mesir,” katanya menyemangatiku. Bisa kuliah di luar negeri menjadi salah satu mimpi terbesar dalam hidupku, entah di Mesir atau di negara lainnya.

Pernyataan-pernyataan itu aku simpan dalam hati sebagai penyemangatku mengejar cita-cita dan mencapainya. Akan tetapi, saat ini rasanya pupus sudah.

**

Bagaimana sikapku?

Setelah pertemuanku dengan Mas S pada hari Sabtu (20/04), aku malah semakin menguatkan tekadku untuk tidak menikah cepat. Maksudnya, aku ingin kembali ke rencana awalku untuk mulai memikirkan pasangan ketika menginjak usia 27 tahun. Dia juga bisa menolakku dan mencari yang lain.

Kukatakan padanya bahwa aku bukanlah seperti perempuan-perempuan lain yang begitu antusias pada pernikahan. Aku juga mengatakan tidak membatasi maksimal umur kapan aku akan menikah.

Sebenarnya, aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan untuknya, terutama pertanyaan-pertanyaan yang menurutku sangat krusial. Akan tetapi, selama obrolan berlangsung, aku urung mengungkapkannya karena sudah bisa menebak bagaimana arah jawabannya. Dan, itulah yang membuatku semakin yakin untuk kembali ke prinsip awal.

**

Keresahan-keresahanku

Hari Kamis lalu, aku menemukan sebuah akun di Instagram yang membahas tentang Aro dan Ace, sebutan untuk aromantis dan aseksual. Setelah membaca (dan masih berusaha untuk membaca lebih banyak)  insight tentang kedua istilah tersebut, aku memiliki kecenderungan sebagai aro.

Aku merenungkan kehidupan selama masa dewasaku. Aku memang tidak merasakan perasaan yang menggebu-gebu untuk berpasangan. Aku memandang pernikahan teman-temanku sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak ada keinginan apalagi keharusan untuk segera menyusul.

Meskipun begitu, aku masih tetap bisa menyukai seseorang. Mungkin aku termasuk dari bagian spektrum aro? Tentu, aku perlu memastikan lebih lanjut. Apa pun hasilnya aku akan menerima diriku apa adanya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.

Oh, maybe kamu ingin mendengar kisahku? BTW, aku sudah beberapa kali jalan sama laki-laki, entah itu pergi makan bareng, nonton bioskop, hingga ke perpustakaan. Sepanjang jalan bersama mereka, perasaanku rasanya biasa-biasa saja dan tidak ada perasaan berbunga-bunga, bahkan saat di antara mereka terang-terangan membicarakan tentang hubungan romantis.

Itulah mengapa, in part of phase of my life especially in the current life, aku sudah menganggap pernikahan adalah opsional saja. Aku tidak akan mewajibkan diriku untuk menikah. Maybe aku perlu menemukan dahulu seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya. Baru bisa merasakan apa itu jatuh cinta.

**

Keberanian

Hari ini aku berjanji akan mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa rencanaku ke depannya, terutama kepada orang tuaku. Bahwa aku butuh waktu dua tahun untuk diriku sendiri tanpa berkomitmen dengan siapa pun untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Ini bukan hanya tentang mimpi-mimpiku yang ingin kucapai sebelum menikah dan anggapanku tentang pernikahan akan menjadi hambatan. Lebih dari itu, aku juga perlu menyiapkan emosi, mental, dan kondisi finansialku sampai dalam kondisi stabil. Aku tidak peduli apakah Mas S atau bukan yang menjadi jodohku. Aku berdoa semoga dalam dua tahun ke depan semuanya jauh lebih matang. Doakan, semoga kedua orang tuaku bisa memahaminya.  Itu saja.

Note: catatan ini dibuat tanpa dibaca lagi dan tidak melalui proses editing. Harap maklum kalau kamu merasa tulisan ini berantakan haha.

Posting Komentar

0 Komentar