![]() |
| (Pexels/Josh Willink) |
Semalam aku
tidak bisa tidur karena terngiang-ngiang ucapan bapak yang menyuruhku untuk
segera menikah. Bahkan, tanpa persetujuan dariku, ia sudah langsung menentukan
bulannya. Bulan Haji tahun depan katanya. Pernyataannya itu didukung pula oleh
ibuku. Apa-apaan ini?
Selain kecewa
pada orang tua, terutama bapakku, aku juga kecewa pada diriku sendiri karena
tidak bisa merespon ucapan mereka sesuai keinginanku. Aku cenderung diam saja dan
merasa kalah. Aku tidak mengeluarkan sisi diriku yang suka memberontak.
Setelahnya,
pernyataan itu langsung menjadi topik diskusi yang tak berkesudahan di dalam
pikiranku, hingga membuatku susah sekali untuk tidur dengan nyenyak. Antara jam
02.00 dan 03.00 WIB aku baru bisa tidur. Itu pun setelah berpindah-pindah
posisi dan tempat tidur.
Sebenarnya aku
sudah curhat ke orang yang kupercaya tentang keresahan-keresahanku ini. Akan tetapi,
dia juga tidak bisa menanggapinya. Meskipun begitu, aku tetap mengucapkan
terima kasih karena dia telah mau membaca ceritaku lewat pesan WhatsApp.
**
Maaf, Kali Ini Aku Kecewa
Sebelum rencana
percomblangan itu, aku sangat bangga pada bapakku karena dia adalah orang yang
selalu membelaku saat ada orang lain, bahkan ibuku, membahas tentang pasangan. “Terserah
dia saja. Lagi fokus belajar dulu,” ungkapnya.
Selain itu,
aku ingat sekali saat pertama kali aku dinyatakan lulus masuk di UIN Jakarta
jurusan Bahasa dan Sastra Arab. “Setelah ini kamu bisa lanjut ke Mesir,”
katanya menyemangatiku. Bisa kuliah di luar negeri menjadi salah satu mimpi
terbesar dalam hidupku, entah di Mesir atau di negara lainnya.
Pernyataan-pernyataan
itu aku simpan dalam hati sebagai penyemangatku mengejar cita-cita dan mencapainya.
Akan tetapi, saat ini rasanya pupus sudah.
**
Bagaimana sikapku?
Setelah pertemuanku
dengan Mas S pada hari Sabtu (20/04), aku malah semakin menguatkan tekadku
untuk tidak menikah cepat. Maksudnya, aku ingin kembali ke rencana awalku untuk
mulai memikirkan pasangan ketika menginjak usia 27 tahun. Dia juga bisa menolakku dan mencari yang lain.
Kukatakan padanya
bahwa aku bukanlah seperti perempuan-perempuan lain yang begitu antusias pada
pernikahan. Aku juga mengatakan tidak membatasi maksimal umur kapan aku akan
menikah.
Sebenarnya,
aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan untuknya, terutama pertanyaan-pertanyaan
yang menurutku sangat krusial. Akan tetapi, selama obrolan berlangsung, aku
urung mengungkapkannya karena sudah bisa menebak bagaimana arah jawabannya. Dan,
itulah yang membuatku semakin yakin untuk kembali ke prinsip awal.
**
Keresahan-keresahanku
Hari Kamis
lalu, aku menemukan sebuah akun di Instagram yang membahas tentang Aro dan Ace,
sebutan untuk aromantis dan aseksual. Setelah membaca (dan masih berusaha untuk
membaca lebih banyak) insight tentang
kedua istilah tersebut, aku memiliki kecenderungan sebagai aro.
Aku merenungkan
kehidupan selama masa dewasaku. Aku memang tidak merasakan perasaan yang
menggebu-gebu untuk berpasangan. Aku memandang pernikahan teman-temanku sebagai
sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak ada keinginan apalagi keharusan untuk
segera menyusul.
Meskipun begitu,
aku masih tetap bisa menyukai seseorang. Mungkin aku termasuk dari bagian
spektrum aro? Tentu, aku perlu memastikan lebih lanjut. Apa pun hasilnya aku
akan menerima diriku apa adanya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Oh, maybe
kamu ingin mendengar kisahku? BTW, aku sudah beberapa kali jalan sama
laki-laki, entah itu pergi makan bareng, nonton bioskop, hingga ke
perpustakaan. Sepanjang jalan bersama mereka, perasaanku rasanya biasa-biasa
saja dan tidak ada perasaan berbunga-bunga, bahkan saat di antara mereka
terang-terangan membicarakan tentang hubungan romantis.
Itulah mengapa, in part of phase of my life especially in
the current life, aku sudah menganggap pernikahan adalah opsional saja. Aku tidak
akan mewajibkan diriku untuk menikah. Maybe aku perlu menemukan dahulu
seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya. Baru bisa merasakan
apa itu jatuh cinta.
**
Keberanian
Hari ini aku berjanji akan mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan
apa rencanaku ke depannya, terutama kepada orang tuaku. Bahwa aku butuh waktu
dua tahun untuk diriku sendiri tanpa berkomitmen dengan siapa pun untuk
melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Ini bukan hanya tentang mimpi-mimpiku yang ingin kucapai
sebelum menikah dan anggapanku tentang pernikahan akan menjadi hambatan. Lebih dari
itu, aku juga perlu menyiapkan emosi, mental, dan kondisi finansialku sampai
dalam kondisi stabil. Aku tidak
peduli apakah Mas S atau bukan yang menjadi jodohku. Aku berdoa semoga dalam
dua tahun ke depan semuanya jauh lebih matang. Doakan, semoga kedua orang tuaku
bisa memahaminya. Itu saja.
Note:
catatan ini dibuat tanpa dibaca lagi dan tidak melalui proses editing. Harap
maklum kalau kamu merasa tulisan ini berantakan haha.

0 Komentar